ANTI PEMIMPIN PENDUSTA DAN ZALIM.


AHMAD BAHAROM CREATION.


1AQIDAH: ALLAH DIDAHULUKAN, RASULULLAH DIUTAMAKAN..... "Terimalah sedikit kesusahan dunia yang sementara,dalam menegakkan kebenaran untuk terlepas daripada kesusahan Akhirat yang berkekalan"


Lawati page dan group ABC di Facebook.

1. Ahmad Baharom Commantary https://www.facebook.com/ahmad.baharom.9
2. Ahmad Baharom Collections https://www.facebook.com/AhmadBaharomCreation/
3. Anti Pemimpin Pendusta, Mungkar dan Zalim https://www.facebook.com/AhmadBaharomCreation2/
4. ABC Conflicts News https://www.facebook.com/AhmadBaharomCreation3/
5. Agama Bangsa Cemerlang https://www.facebook.com/groups/ahmadbaharom62/

Dan beberapa group yang boleh dikenali dengan ABC.

BLOG INI ADALAH BERKAITAN AGAMA DAN POLITIK.
Tulis Carian Anda didalam line putih dibawah


1AQIDAH: ALLAH DIDAHULUKAN, RASULULLAH DIUTAMAKAN..... "Terimalah sedikit kesusahan dun

Monday, 5 January 2015

ALIRAN KHAWARIJ DAN PERKEMBANGANNYA

ALIRAN KHAWARIJ DAN PERKEMBANGANNYA


A. Pengertian Khawarij
Secara etimologi kata khawarij berasal dari bahasa Arab, yaitu kharaja yang berarti keluar, mucul, timbul atau memberontak. Berdasarkan pengertian etimologi ini pula, khawarij berarti setiap muslim yang ingin keluar dari kesatuan umat Islam.[1]
Adapun khawarij dalam terminology ilmu kalam adalah suatu sekte/kelompok/aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim), dalam perang siffin pada tahun 37 H/657 M, dengan kelompok bughat (pemberontak) Muawiyah bin Abi Sufyan perihal persengketaan khilafah.[2]

B. Sejarah lahirnya Khawarij
Sebenarnya awal mula kemunculan pemikiran khawarij, bermula pada saat masa Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW membagi-bagikan harta rampasan perang di desa Ju’ronah (pasca perang Hunain) beliau memberikan seratus ekor unta kepada Aqra’ bin Habis dan Uyainah bin Harits. Beliau juga memberikan kepada beberapa orang dari tokoh quraisy dan pemuka-pemuka arab lebih banyak dari yang diberikan kepada yang lainnya. Melihat hal ini, seseorang (yang disebut Dzul Khuwaisirah) Berkata: “Demi Allah ini adalah pembagian yang tidak adil dan tidak mengharapkan wajah Allah”. Atau dalam riwayat lain dia mengatakan kepada Rasulullah SAW: “Berbuat adillah, karena sesungguhnya engkau belum berbuat adil!”.[3]
Sungguh, kalimat tersebut bagaikan petir di siang bolong. Pada masa generasi terbaik dan di hadapan manusia terbaik pula, ada seorang yang berani berbuat lancang dan menuduh bahwa Rasulullah SAW tidak berbuat adil. Mendengar ucapan ini Rasulullah SAW dengan wajah yang memerah bersabda:
“Siapakah yang akan berbuat adil jika Allah dan rasul-Nya tidak berbuat adil? Semoga Allah merahmati Musa. Dia disakiti lebih dari pada ini, namun dia bersabar.” (HR. Bukhari Muslim)[4]
Saat itu Umar bin Khathab r.a meminta izin untuk membunuhnya, namun Rasulullah SAW melarangnya. Beliau mengabarkan akan munculnya dari turunan orang ini kaum reaksioner (khawarij) sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikutnya:
“Sesungguhnya orang ini dan para pengikutnya, salah seorang di antara kalian akan merasa kalah shalatnya dibandingkan dengan shalat mereka; puasanya dengan puasa mereka; mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari buruannya.” (HR. al-Ajurri, Lihat asy-Syari’ah, hal. 33)[5]
Demikianlah Rasulullah SAW mensinyalir akan munculnya generasi semisal Dzul Khuwaisirah (sang munafiq). Yaitu suatu kaum yang tidak pernah puas dengan penguasa manapun, menentang penguasanya walaupun sebaik Rasulullah SAW.
Dikatakan oleh Rasulullah SAW bahwa mereka akan keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari buruannya. Yaitu masuk dari satu sisi dan keluar dari sisi yang lain dengan tidak terlihat bekas-bekas darah maupun kotorannya, padahal ia telah melewati darah dan kotoran hewan buruan tersebut.[6]
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang bagus bacaan al-Qur’annya, namun ia tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca.
“Sesungguhnya sepeninggalku akan ada dari kaumku, orang yang membaca al-Qur’an tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka akan keluar dari Islam ini sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya. Kemudian mereka tidak akan kembali padanya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk.” (HR. Muslim). [7]
Madzhab Khawarij baru muncul bersamaan dengan madzhab Syiah. Masing-masing muncul sebagai madzhab pada masa pemerintahan Khalifah Ali Ibn Abi Thalib.[8]
Madzhab Khawarij untuk pertama kali muncul di kalangan tentara Ali ketika peperangan memuncak antara pasukan Ali dan pasukan Mu’awiyah. Ketika merasa terdesak oleh pasukan Ali, Mu’awiyah merencanakan untuk mundur, tetapi kemudian terbantu dengan munculnya pemikiran untuk melakukan tahkim. Tentara Mu’awiyah mengacung-acungkan al-Qur’an agar mereka ber-tahkim dengan al-Qur’an. Namun, Ali tetap melanjutkan peperangan sampai ada yang kalah dan menang, maka keluarlah sekelompok orang dari pasukan Ali yang menuntut agar ia menerima usulan tahkim.[9]
Dengan terpaksa Ali menerima usulan itu. Kedua belah pihak sepakat untuk mengangkat seorang hakam dari masing-masing. Mu’awiyah memilih Amr Ibn Al-Ash. Sementara itu, Ali pada mulanya hendak mengangkat Abdullah ibn Abbas, tetapi atas desakan pasukannya yang keluar itu, akhirnya mengangkat Abu Musa Al-ASy’ari. Upaya tahkim akhirnya berakhir dengan suatu keputusan, yaitu menurunkan Ali dari jabatan Khalifah dan mengukuhkan Mu’awiyah menjadi penggantinya. Hasil tahkim ini lebih menguntungkan para pendukung pemberontak yang dipimpin Mu’awiyah.[10]
Anehnya, kelompok yang semula memaksa Ali untuk menerima tahkim dan menunjuk orang yang menjadi hakim atas pilihan mereka itu, belakangan memandang perbuatan tahkim sebagai kejahatan besar. Kemudian mereka menuntut Ali agar bertaubat karena dipandang telah berbuat dosa besar. Menurut mereka, Ali yang menyetujui untuk bertahkim berarti telah menjadi kafir, sebagaimana mereka juga telah menjadi kafir, tetapi kemudian bertaubat. Pandangan kelompok ini kemudian diikuti oleh orang-orang Arab pegunungan. Semboyan mereka yang terkenal adalah ,”tidak ada hukum kecuali hukum Allah”. Mereka kemudian memerangi Ali, setelah terlebih dahulu berdialog dengan Ali, kemudian mengukuhkan Pendapatnya.[11]
Demikian watak dasar kelompok ini, yaitu keras kepala dan dikenal kelompok paling keras memegang teguh prinsipnya. Inilah yang sebenarnya menjadi penyabab utama lahirnya kelompok ini. Khawarij adalah kelompok yang didalamnya dibentuk oleh mayoritas orang-orang Arab pedalaman (a’râbu al-bâdiyah). Mereka cenderung primitive, tradisional dan kebanyakan dari golongan ekonomi rendah, namun keadaan ekonomi yang dibawah standar tidak mendorong mereka untuk meningkatkan pendapatan. Ada sifat lain yang sangat kontradiksi dengan sifat sebelumnya, yaitu kesederhanaan dan keikhlasan dalam memperjuangkan prinsip dasar kelompoknya.[12]
Walaupun keikhlasan itu ditutupi keberpihakan dan fanatisme buta. Dengan komposisi seperti itu, kelompok ini cenderung sempit wawasan dan keras pendirian. Prinsip dasar bahwa “tidak ada hukum, kecuali hukum Tuhan” mereka tafsirkan secara dzohir saja.[13]

Beberapa prinsip Aliran-aliran Khawarij
Prinsip-prinsip yang disepakati aliran-aliran Khawarij, yaitu:
Pertama, dan ini yang paling tegas, adalah pengangkatan khalifah akan sah hanya jika berdasarkan pemilihan yang benar-benar bebas dan dilakukan oleh semua umat Islam tanpa diskriminasi. Seorang Khalifah tetap pada jabatannya selama ia berlaku adil, melaksanakan Syari’at, serta jauh dari kesalahan dan penyelewengan. Jika ia menyimpang, ia wajib dijatuhkan dari jabatannya atau dibunuh.
Kedua, jabatan Khalifah bukan hak khusus keluarga Arab tertentu, bukan monopoli suku Quraisy sebagaimana dianut golongan lain, bukan pula khusus untuk orang Arab dengan menafikan bangsa lain, melainkan semua bangsa mempunyai hak yang sama. Khawarij bahkan mengutamakan non-Quraisy untuk memegang jabatan Khalifah.
Ketiga, yang berasal dari aliran Najdah, pengangkatan Khalifah tidak diperlukan jika masyarakat dapat menyelesaikan masalah-masalah mereka.jika masyarakat berpendapat bahwa masalah mereka tidak dapat diselesaikan dengan tuntas tanpa seorang imam (khalifah) yang dapat membimbing masyarakat ke jalan yang benar, maka ia boleh di angkat.
Keempat, orang yang berdosa adalah kafir. Mereka tidak membedakan antara satu dosa dengan dosa yang lain, bahkan kesalahan dalam berpendapat merupakan dosa, jika pendapat itu bertentangan.[14]

C. Ide-ide Pemikiran aliran Khawarij
a. Menganggap kafir orang-orang yang berseberangan dengan mereka, terutama yang terlibat dalam Perang Shiffin. Karenanya, tidak ada istilah damai untuk penentang Khawarij, mengingat yang dimaksud ishlah dalam QS. Al-Hujurat: 9 adalah sesama orang Islam, tidak dengan orang kafir.
b. Orang Islam yang berbuat dosa besar, seperti berzina dan pembunuh adalah kafir dan selamanya masuk neraka.
c. Hak khilafah tidak harus dari kerabat nabi atau suku Quraisy khususnya, dan orang Arab umumnya. Seorang khalifah harus dipilih oleh kaum Muslimin melalui pemilihan yang bebas. Khalifah yang taat kepada Tuhan wajib ditaati. Sebaliknya, khalifah yang mengingkari Tuhan dan umat yang durhaka kepada khilafah yang wajib ditaati, boleh diperangi dan dibunuh.
d. Orang musyrik adalah yang melakukan dosa besar, tidak sepaham dengan mereka, atau orang yang sepaham tetapi tidak ikut hijrah dan berperang bersama mereka. Orang musyrik itu halal darahnya. Nasib mereka bersama anak-anaknya akan kekal di neraka.
e. Mereka menganggap bahwa hanya daerahnya yang disebut dar al-Islam, dan daerah orang yang melawan mereka adalah dar al-harb. Karenanya, orang yang tinggal dalam wilayah dar al-harb, baik anak-anak maupun wanita, boleh dibunuh.
f. Ajaran agama yang harus diketahui hanya ada dua, yakni mengetahui Allah dan rasul-Nya. Selain dua hal itu tidak wajib diketahui.
g. Melakukan taqiyyah (menyembunyikan keyakinan demi keselamatan diri), baik secara lisan maupun perbuatan adalah dibolehkan bila keselamatan diri mereka terancam.
h. Dosa kecil yang dilakukan secara terus menerus akan berubah menjadi dosa besar dan pelakunya menjadi musyrik.
i. Imam dan khilafah bukanlah suatu keniscayaan. Tanpa imam dan khilafah, kaum muslimin bisa hidup dalam kebenaran dengan cara saling menasihati dalam hal kebenaran.[15]
D. Aliran-aliran Khawarij
Kaum khawarij terpecah belah menjadi beberapa golongan/aliran, diantaranya yaitu:
a. Azariqah
Aliran ini dipimpin oleh Nafi’ ibn al-Azraq yang berasal dari bani hanifah. Khalifah pertama yang mereka pilih ialah Nafi’ sendiri dan kepadanya mereka beri gelar Amir al-Mu’minin. Mereka merupakan pendukung terkuat madzhab Khawarij yang paling banyak anggotanya dan paling terkemuka di antara semua aliran madzhab ini. Daerah kekuasaan mereka terletak di perbatasan Irak dengan Iran.[16]

Prinsip yang membedakan aliran Azariqah dari aliran lain adalah:
1) Mereka memandang orang yang berbeda pendapat dengan mereka tidak hanya bukan mu’min, tetapi juga musyrik, kekal dineraka serta halal diperangi dan dibunuh.
2) Mereka berpendapat bahwa anak-anak dari orang yang berbeda paham dengan Azariqah adalah kekal dineraka.
3) Dalam bidang fiqh, mereka tidak mengakui adanya hokum rajam. Alas an mereka, dalam al-Qur’an tidak ditemukan hukuman bagi pelaku zina kecuali hokum jild (cambuk seratus kali); tidak pula dikenal dalam Sunnah Nabi.[17]
Menurut paham yang ekstrim ini hanya merekalah yang sebenarnya orang islam. Orang islam yang di luar lingkungan mereka adalah kaum musyrik yang harus diperangi. Oleh karena itu kaum al-Azariqah, sebagai disebut Ibn Al-Hazm, selalu mengadakan isti’rad yaitu bertanya tentang pendapat atau keyakinan seseorang. Siapa saja yang mereka jumpai dan mengaku orang islam yang tak termasuk dalam golongan al-Azariqah, mereka dibunuh.[18]
b. Al-Muhakkimah
Golongan khawarij asli dan terdiri dari pengikut-pengikut Ali, disebut golongan al-Muhakkimah. Bagi mereka, Ali, Mu’awiyah, kedua pengantara Amr Ibn al-Ash dan Abu Musa al-Asy’ari dan semua orang yang menyetujui arbitrase bersalah dan menjadi kafir. Selanjutnya hukum kafir ini mereka luaskan artinya sehingga termasuk ke dalamnya tiap orang yang berbuat dosa besar.[19]
Berbuat zina dipandang sebagai salah satu dosa besar, maka menurut paham golongan ini orang yang mengerjakan zina telah menjadi kafir dan keluar dari islam. Begitu pula membunuh sesama manusia tanpa sebab yang sah adalah dosa besar.[20]

c. Najdah
Sekte ini dinamakan al-Najdah karena dinisbatkan kepada pimpinan terpilihnya, yaitu Najdah Ibn ‘Amir al-Hanafi dari Yamamah di Arabia Tengah. Terpilihnya Najdah sebagai pemimpin sekte ini tidak terlepas dari sumbangan Abu Fudaik dan kawan-kawannya yang pada awalnya adalah pengikut al-Azraq dari sekte al-Zariqah juga. Para pendiri sekte ini pergi meninggalkan al-Zariqah disebabkan karena mereka tidak dapat menerima beberapa ajaran yang ekstrem dari al-Zariqah. Di antaranya tentang orang yang tidak mau berhijrah ke lingkungan al-Zariqah adalah musyrik. Dan ajaran yang membolehkan membunuh anak dan isteri orang-orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka.[21]
Bagi mereka orang yang tidak secara aktif mendukung mereka tidaklah dianggap kafir, tetapi hanya sekedar munafik. Mereka memberikan wewenang kepada anggotanya untuk hidup di wilayah lain, sekalipun di luar wilayah kekuasaan Khawarij. Mereka membolehkan anggotanya untuk melakukan taqiyah (yaitu suatu sikap yang menyembunyikan pandangan ke-Najdahannya).[22]
Penganut aliran Najdah berpendapat bahwa mengangkat imam bukan wajib karena syari’at telah menggariskannya, tetapi karena kemaslahatan. Dengan kata lain, jika kaum muslimin telah dapat saling mengingatkan tentang kebenaran dan melaksanakannya, maka mereka tidak membutuhkan adanya imam (khalifah).[23]
d. Shafriyyah
Penamaan sekte ini juga dinisbatkan kepada tokoh utamanya, yaitu Zaid Ibn al-Asfar. Aliran ini juga dianggap ekstrem seperti al-Zariqah. Di antara pendapat-pendapat mereka juga ada yang terkesan lebih lunak terutama untuk hal-hal berikut ini:
1) Orang Sufriah yang tidak berhijrah tidaklah dipandang kafir.
2) Mereka tidak sependapat dengan pendapat yang boleh membunuh anak-anak orang kafir (musrik).
3) Mereka membagi dosa besar menjadi dua, yaitu:
a) Dosa besar yang ada sangsinya di dunia seperti berzina, membunuh, dan mencuri.
b) Dosa besar yang tidak ada sangsinya di dunia seperti meninggalkan shalat dan puasa.
4) Cakupan dar al-harb (daerah yang harus diperangi) juga dibatasi.
5) Kufr tidaklah selamanya keluar dari agama Islam.
6) Taqiyah hanya boleh dalam bentuk perkataan dan tidak dalam bentuk perbuatan.
7) Untuk keamanan diri, seorang wanita muslim boleh kawin dengan satu lelaki kafir, di daerah bukan Islam.[24]

e. Ajaridah
Aliran ini dipimpin oleh Abdul Karim ibn Ajrad, salah seorang pengikut Athiyyah ibn al-Aswad al- Hanafi yang keluar dari aliran Najdah bersama beberapa pengikutnya dan pergi ke Sijistan. Karena mereka merupakan pecahan dari aliran Najdah, maka banyak paham mereka yang berdekatan dengan paham aliran Najdah.[25]
Diantara pendapat mereka ialah boleh mengangkat seseorang menjadi pemimpin jika diketahui bahwa orang tersebut adalah penganut Khawarij yang bertakwa walaupun ia tidak turut perang. Dalam hal ini pandangan mereka berbeda dengan pandangan aliran Azariqah yang mewajibkan jihad secara terus menerus. Menurut mereka berhijrah hanya merupakan kebajikan. [26]
Selanjutnya kaum Ajaridah ini mempunyai paham puritanisme. Surat Yusuf dalam al-Qur’an membawa cerita cinta dan al-Qur’an, sebagai kitab suci, kata mereka, tidak mungkin mengandung cerita cinta. Oleh karena itu mereka tidak mengakui surat Yusuf sebagai bagian dari al-Qur’an.[27]
Sebagai golongan Khawarij lain, golongan Ajaridah ini juga terpecah belah menjadi golongan-golongan kecil, ini disebabkan adanya perbedaan pendapat disekitar masalah daya yang terdapat didalam diri manusia dan masalah status anak-anak dari orang yang berbeda paham dengan mereka. Perdebatan yang terjadi diantara mereka biasanya bermula dari hal-hal kecil, kemudian meluas kepada masalah-masalah yang lebih besar, dan akhirnya menimbulkan perpecahan ke dalam banyak kelompok. Diantara mereka, yaitu golongan al-Maimuniah, menganut paham qadariyah. Bagi mereka semua perbuatan manusia, baik dan buruk, timbul dari kemauan dan kekuasaan manusia sendiri. Golongan al-Hamziah juga mempunyai paham yang sama. Tetapi golongan al-Syu’aibiah dan al-Hazimiah menganut paham sebaliknya. Bagi mereka tuhanlah yang yang menimbulkan perbuatan-perbuatan manusia. Manusia tidak dapat menentang kehendak Allah. [28]
f. Ibadhiyyah
Sekte ini juga dinisbatkan kepada pimpinannya, yaitu ‘Abdullah Ibn Ibad. Sebelumnya, Ibn Ibad adalah pengikut al-Zariqah. Karena tidak bisa menerima pendapat-pendapat ekstrem al-Zariqah, maka ia kemudian memisahkan diri dari kelompok ekstrem itu.[29]
Aliran Ibadhiyyah merupakan penganut paham khawarij yang paling moderat, adil dan luwes.[30]
Sebagian pendapat fiqh mereka diadopsi oleh perundang-undangan Mesir, khususnya dalam masalah kewarisan, yaitu tentang pewarisan karena memerdekakan seseorang.
Beberapa pendapat mereka yang menonjol ialah:
1) Orang yang tidak sepaham dengan mereka bukanlah mukmin dan bukanlah musrik, tetapi kafir, yaitu kafir akan nikmat, bukan kafir dalam keyakinan, karena orang tersebut tidak mengingkari adanya Allah, tetapi hanya lengah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
2) Daerah orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka bukanlah dar al-harb, tetapi tetap dar al-tauhid.
3) Pelaku dosa besar masih tetap muwahhid, yaitu orang yang meng-Esa-kan Tuhan.
4) Yang boleh dirampas dalam perang hanyalah kuda, senjata, dan perlengkapan perang lainnya.[31]

g. Aliran-aliran yang dipandang keluar dari Islam
· Yazidiyah
Aliran ini semula adalah pengikut aliran al-Ibadiah, tetapi kemudian berpendapat bahwa Allah akan mengutus seorang rasul dari kalangan luar Arab yang akan diberi kitab yang akan menggantikan syari’at Muhammad.[32]
· Maimuniyah
Aliran ini dipimpin oleh Maimun al-Ajradi. Aliran ini membolehkan seseorang menikahi cucu-cucu perempuan dari anak laki-laki dan anak perempuan dari saudara laki-laki dan saudara perempuan. Mereka juga mengingkari surat Yusuf dalam al-Qur’an dan tidak mengakuinya sebagai bagian dari al-Qur’an, karena menurut mereka surah itu berisi kisah porno, sehingga tidak pantas dinisbahkan kepada Allah. Dengan pendapat itu mereka sebenarnya telah mencela Allah karena keyakinan mereka yang salah.[33]
Sifat‑sifat Khawarij
1. Mencela dan Menyesatkan
Orang‑orang Khawarij sangat mudah mencela dan menganggap sesat Muslim lain, bahkan Rasul saw. sendiri dianggap tidak adil dalam pembagian ghanimah. Kalau terhadap Rasul sebagai pemimpin umat berani berkata sekasar itu, apalagi terhadap Muslim yang lainnya, tentu dengan mudahnya mereka menganggap kafir. Mereka mengkafirkan Ali, Muawiyah, dan sahabat yang lain. Fenomena ini sekarang banyak bermunculan. Efek dari mudahnya mereka saling mengkafirkan adalah kelompok mereka mudah pecah disebabkan kesalahan kecil yang mereka perbuat.
2. Buruk Sangka
Fenomena sejarah membuktikan bahwa orang‑orang Khawarij adalah kaum yang paling mudah berburuk sangka. Mereka berburuk sangka kepada Rasulullah saw. bahwa beliau tidak adil dalam pembagian ghanimah, bahkan menuduh Rasulullah saw. tidak mencari ridha Allah. Mereka tidak cukup sabar menanyakan cara dan tujuan Rasulullah saw. melebihkan pembesar‑pembesar dibanding yang lainnya. Padahal itu dilakukan Rasulullah saw. dalam rangka dakwah dan ta’liful qulub. Mereka juga menuduh Utsman sebagai nepotis dan menuduh Ali tidak mempunyai visi kepemimpinan yang jelas.
3. Berlebih‑lebihan dalam ibadah
Ini dibuktikan oleh kesaksian Ibnu Abbas. Mereka adalah orang yang sangat sederhana, pakaian mereka sampai terlihat serat‑seratnya karena cuma satu dan sering dicuci, muka mereka pucat karena jarang tidur malam, jidat mereka hitam karena lama dalam sujud, tangan dan kaki mereka ‘kapalan’. Mereka disebut quro’ karena bacaan Al-Qur’annya bagus dan lama. Bahkan Rasulullah saw. sendiri membandingkan ibadah orang‑orang Khawarij dengan sahabat yang lainnya, termasuk Umar bin Khattab, masih tidak ada apa‑apanya, apalagi kalau dibandingkan dengan kita. Ini menunjukkan betapa sangat berlebih‑lebihannya ibadah mereka.
4. Keras terhadap sesama Muslim dan memudahkan yang lain
Hadits Rasulullah saw. menyebutkan bahwa mereka mudah membunuh orang Islam, tetapi membiarkan penyembah berhala.
Ada suatu peristiwa pada saat mereka di kebun kurma dan ada satu biji kurma yang jatuh kemudian salah seorang dari mereka memakannya, tetapi setelah yang lain mengingatkan bahwa kurma itu bukan miliknya, langsung saja orang itu memuntahkan kurma yang dimakannya. Dan ketika mereka di Kuffah melihat babi langsung mereka bunuh, tapi setelah diingatkan bahwa babi itu milik orang kafir ahli dzimmah, langsung saja yang membunuh babi tadi mencari orang yang mempunyai babi tersebut, meminta maaf dan membayar tebusan.
5. Sedikit pengalamannya
Hal ini digambarkan dalam hadits bahwa orang‑orang Khawarij umurnya masih muda‑muda yang hanya mempunyai bekal semangat.
6. Sedikit pemahamannya
Disebutkan dalam hadits dengan sebutan Sufahaa-ul ahlaam (orang bodoh), berdakwah pada manusia untuk mengamalkan Al‑Qur’an dan kembali padanya, tetapi mereka sendiri tidak mengamalkannya dan tidak memahaminya. Merasa bahwa Al‑Qur’an akan menolongnya di akhirat, padahal sebaliknya akan membahayakannya.
7. Nilai Khawarij
Orang‑orang Khawarij keluar dari Islam sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw., “Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari busurnya.”
8. Fenomena Khawarij
Mereka akan senantiasa ada sampai hari kiamat. “Mereka akan senantiasa keluar sampai yang terakhir keluar bersama Al‑Masih Ad‑Dajjal”
9. Kedudukan Khawarij
Kedudukan mereka sangat rendah. Di dunia disebut sebagai seburuk-buruk makhluk dan di akhirat disebut sebagai anjing neraka.[34]
Ibroh (Pelajaran) yang dapat di ambil:
1. Berhati‑hati supaya tidak terjatuh pada Khawarijisme
Secara sosial politik Khawarij bisa muncul kapan saja. Kemunculan pertama Khawarij dimulai dari ketidakpercayaan (‘adamuts tsiqah) sebagian mereka kepada pemimpin kaum Muslimin, yaitu Utsman bin Affan yang mereka anggap tidak adil, nepotisme, dan mengangkat orang‑orang dekatnya. Ditambah ada sosok lain yang tidak suka dengan Islam, yaitu Abdullah bin Saba, yang sangat besar pengaruhnya dalam memecah belah umat Islam. Melihat sejarah awal munculnya Khawarij, sekarang ini fenomena itu tampaknya ada.
2. Bertaubat jika sudah terjatuh
Sejarah pun telah membuktikan banyak umat Islam yang sudah terjatuh pada fitnah Khawarijisme. Di Mesir pada tahun 60‑an banyak kelompok yang keluar dari jama’ah yang benar dan menuduh pemimpinnya lemah, bahkan menuduh sesama muslim sebagai kafir. Untuk menghadapi orang‑orang yang sudah terjatuh pada Khawarij minimal dibutuhkan tiga cara: (1) memilih orang yang cocok untuk menghadapi mereka, (2) cara yang benar, (3) memeranginya jika diperlukan.
3. Mensyukuri pemahaman yang benar
Kalau kita melihat betapa orang yang ibadahnya sangat rajin, pandai bahasa Arab, masih bisa salah dalam memahami Islam bahkan dicap oleh Rasul sebagai anjingnya ahli neraka, ini menunjukkan betapa besarnya nikmat pemahaman yang benar yang diberikan Allah pada kita.[35]
Keistimewaan Khawarij
Orang-orang Khawarij mempunyai keikhlasan yang sempurna terhadap akidahnya. Mereka keras sekali beribadat dan teguh benar-benar mempertahankan sifat kebenaran dan kesetiaan serta berlepas diri dari orang-orang yang berdusta dan mengerjakan maksiat yang nyata. Dan mereka juga mempunyai keberanian yang luar biasa dalam menghadapi musuh dan berterus terang dalam mempertahankan kebenaran.[36]

E. Aliran Khawarij Pada saat ini
Secara formal, Khawarij sudah tidak ada, tetapi secara substansi paradigma pemikiran dan ciri-ciri alirannya masih hidup dan berkembang hingga sekarang.
Pada masa sekarang, pemberontakan bersenjata dan praktik mengafirkan orang Islam telah terjadi di wilayah Arab bagian timur laut pada peralihan abad ke-19 seperti yang ditulis oleh para cendekiawan Islam: Istilah Khawarij berlaku bagi kelompok yang bersimpang jalan dengan orang-orang Islam dan menganggap mereka sebagai orang-orang kafir, seperti yang terjadi pada zaman sekarang ini dengan para pengikut Ibn ‘Abd al-Wahhâb yang muncul di Najd dan menyerang dua tempat suci umat Islam.[37]
Belakangan ini, beberapa ulama mengritik aliran Wahabi atau “salafî” sebagai kelompok yang secara politik tidak benar. Praktik mengafirkan menjadi ciri utama yang bisa dikenali dari kelompok neo-Khawarij pada masa modern ini. Mereka kelompok yang senang menghantam orang-orang Islam dengan tudingan kafir, bidah, syirik, dan haram, tanpa bukti atau pembenaran selain dari hawa nafsu mereka sendiri, dan tanpa memberikan solusi selain dari sikap tertutup dan kekerasan terhadap siapa pun yang berbeda pendapat dengan mereka.[38]
Mereka sama sekali tidak ragu-ragu menjatuhkan hukuman mati terhadap orang-orang yang mereka tuduh kafir, sehingga mereka benar-benar telah meremehkan kesucian jiwa dan kehormatan saudara-saudara mereka sendiri. Imam al-Nawawî berkata, “Orang-orang ekstrem merupakan kelompok fanatik yang sudah melampaui batas, dalam ucapan maupun perbuatan,” dan “keras pendirian.” Melakukan praktik takfîr terhadap sesama muslim merupakan ciri kelompok Khawarij, entah mereka menyebut diri sebagai kelompok “salafi”, Syiah, atau sufi.[39]
Mereka mencampuradukkan berbagai hal menurut selera mereka, asalkan sesuai dengan kepentingan mereka. Bahkan, mereka tidak memiliki latar belakang ilmu-ilmu keislaman sedikit pun, dan mereka menggunakan ayat-ayat Al-quran mengenai orang-orang kafir keluar dari konteksnya, dan menerapkannya kepada orang-orang Islam. Seperti yang disebutkan sebelumnya, orang-orang Khawarij tidak terbatas pada masa tertentu, tetapi merupakan karakter yang melekat pada kelompok atau orang yang keluar dari batas-batas agama, dengan menuduh orang Islam sebagai kafir.[40]
Inilah metode yang dikembangkan oleh kelompok Khawarij, dulu dan kini, dan kemunculan anak-anak muda Khawarij yang menyesatkan itu telah disinggung 1400 tahun yang lalu oleh Nabi Muhammad saw. Kelompok Khawarij dewasa ini terdiri dari para pengikut aliran Wahabi atau “Salafi”. Mereka sangat aktif menyebarluaskan kepalsuan ajaran mereka dengan propaganda besar-besaran, melalui ceramah di masjid, internet, televisi, atau penyebarluasan video, koran, buku, majalah, dan brosur. Sementara itu, mereka menekan dan menyembunyikan kebenaran ajaran-ajaran Islam klasik yang menjadi arus utama umat Islam, dan berkomplot untuk membungkam siapa pun yang menentang sikap ekstrem mereka.[41]

POLIMIK FIRQAH ANTARA WAHABI DAN ASWJ

Polemik Firqah Wahabi vs ASWJ di Malaysia
Polemik Firqah Salafi Wahabi vs Ahli Sunnah Waljamaah di Malaysia

Polemik antara aliran Salafi Wahabi dengan Ahli Sunnah Waljamaah di dalam Negara semakin mendapat perhatian dan ianya juga menjadi perbualan kalangan masyarakat berilmu.

Kedua pihak saling mengkritik dan mempertikaikan antara satu sama lain berkenaan hal ehwal agama mengikut kefahaman masing-masing. Kedua belah pihak memepunyai hujah tersendiri bagi mendokong pandangan mereka.

Malaysia sebuah Negara yang pada dasar umat Islam mempraktikkan aliran Sunnah Waljamaah sejak berzaman kedatangan Islam di Alam Melayu dan ianya menjadi pegangan majoriti umat Islam sedunia. Bahkan rantau nusantara dikenali rantau Sunni.

Manhaj ASWJ
Apakah yang dimaksudkan aliran Ahli Sunnah waljamaah… Iaitu golongan yang memahami al-Quran dan as-Sunnah dengan kefahaman Islam sebenar iaitu berpaksikan akidah menikut manhaj (methodology) Imam Abu Hasan al-Asyaari dan al-Maturidi, didalam mempraktikkan amalan Feqah mengikut mazhab seperti Hanafi, Maliki, Hanbali dan Syafei. Dan mempraktikkan amalan Tasawuf mengikut manhaj Imam al-Ghazali atau mana-mana Tariqat Sufi Muktabar. Antara tokoh iaitu Imam al-Ghazali, Imam as-Syafei, Imam Hanafi, Imam al-Abu Hasan Asyaari, Maulana Zakaria al-Kandahlawi, Said Nursi, Syeikh Daud al-Fathoni, Syeikh Ahmad al-Fhathoni, Syeikh Abd Samad al-Palembani, Syekh Mohd Arsyad al-Banjari, Dr Uthman el-Muhammady dan ramai lagi. Institusi yang utuh dengan aliran Sunni ASWJ iaitu al-Azhar as-Syarif, Mesir dan institusi Pondok/pesantren dan Institusi Tariqat Sufi.

Manhaj Salafi Wahabi
Iaitu suatu aliran yang mendakwa berpegang secara langsung kepada al-Quran dan Hadis tanpa mengikuti mazhab tetapi mengikut manhaj golongan salafus soleh. Mereka menisbahkan diri mereka sebagai salaf iaitu golongan yang hidup dalam sekitar 300 tahun daripada zaman Rasulullah SAW. Namun dakwaan mereka mengatakan mengikut manhaj salaf jelas bertentangan kerana berbeza antaranya golongan wahabi mencipta tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma Sifat, memanipulasi faham bidah, syirik , kufur mengikut fahaman mereka serta membawa fahaman tajsim dan tashbih. Antara tokoh aliran ini ialah Ibn Taimiah, Mohd b Wahab, Ibn Qayyim, Nasrudin al-Albani, Abd Qadir al-Jazairi, Ibn al-Baz, Nasrudin al-Albani, Usama Bin Laden dan lain-lain. Antara institusi utama iaitu Universiti Islam Madinah al-Munawarah, di Arab Saudi dan beberapa madrasah di Pakistan.

Fenomena Salafi Wahabi di Malaysia semakin ketara dengan sikap golongan firqah tersebut yang mempertikaikan ulama Melayu silam dan kitab-kitab karya mereka dengan tohmahan sebagai jumud dan menyeleweng. Amalan-amalan kebaikan seperti maulid, tahlil, majlis zikir dihukumkan sesat dan bidah. Bahkan golongan salafi Wahabi banyak memainkan fahaman mujassimah dan mushabihah dan doktrin menghukum seperti sesat, khurafat, bidah, syirik, kufur mengikut kefahaman dan pandangan mereka. Golongan Salafi Wahabi berjaya mendapat tempat di beberapa media massa seperti majalah dan akbat harian dan mingguan. Mereka juga berjaya menduduki di dalam sektor awam, institusi pengajian tinggi awam dan swasta, NGO, parti politik dan lain-lain. Bahkan mereka telah berjaya penetrasi kedalam aliran Sunni Ahli Sunnah waljamaah dan mendakwa merekalah sebenarnya ASWJ. Konsep yang mereka sebarkan doktrin mereka adalah melalui mengajar di sekolah, surau, masjid, IPT, dan melalui penulisan di media massa serta seminar, wacana, ceramah, Internet, Tv, Radio dan sebagainya. Bahkan menjadikan masyarakat tidak dapat menilai antara siapa sebenarnya golongan ASWJ.

Fahaman tabdi’ yang dipelopori golongan salafi wahabi membawa kekeliruan kepada masyarakat tentang Islam yang sebenar walhal sejak berzaman Islam di dalam Negara ialah ASWJ. Fahaman tabdi’ boleh membawa perpecahan dan pertelingkahan dalam masyarakat Islam di Malaysia. Walaupun golongan Salafi Wahabi masih kecil namun mereka kelak bagaikan bom jangka yang akan menggugat perpaduan umat Islam di Malaysia.

Agenda Salafi Wahabi kini ialah mengkritik ulama Melayu silam sebagai jumud, sesat dan menyeleweng dan mempropagandakan kitab agama Jawi Melayu sebagai tidak betul dan taksub kepada mazhab dan taksub kepada bangsa Melayu. Sememangnya mereka bertopengkan dan mendakwa mereka sebagai golongan Islah, tajdid dan mengikut al-Quran dan al-Hadis. Dan mereka begitu sensitif jikalau membangkitkan penyelewengan ulama rujukan mereka yang menjadi pujaan golongan Wahabi. Bahkan mereka bijak dengan menafikan panggilan wahabi kepada pengikut-pengikut mereka bagi memperdayakan masyarakat dengan dakyah dan doktrin mereka tersebut. Dan Mereka juga suka membangkitkan isu-isu masalah furu’, ayat-ayat mutashabihat dan kontroversi bagi mengelirukan umat Islam dengan ASWJ yang hakiki. Bahkan sesetengah pihak sudah keliru dengan mengiktiraf golongan Salafi Wahabi sebagai sebahagian daripada aliran ASWJ.

Di Malaysia mereka membentuk jaringan sesama mereka dan secara antarabangsa dengan golongan Salafi Wahabi di Timur Tengah, Indonesia dan Thailand serta menjemput ulama Wahabi ke Malaysia bagi wacana ilmu anjuran mereka. Mereka bergerak melaui NGO dan sebagainya

Penutup
Sesungguhnya doktrin yang dibawa oleh golongan Salafi Wahabi adalah melampau dan bertentangan dengan ASWJ yang sebenar mengikut kefahaman al-Quran dan Hadis. Fahaman Tabdi’ seperti menghukum sebagai sesat, bid’ah, khurafat, syirik, taksub mazhab, jumud dan taksub kepada bangsa adalah doktrin yang selau dibawa mereka. Mereka selau bertopengkan dengan dakwaan berpegang kepada al-Quran dan Hadis, golongan Islah, tajdid dan sebagainya.

Mereka semakin membentuk jaringan sesama golongan wahabi sebagai jaringan strategik dalam dan luar Negara dan berusaha mencari peluang di media massa dan posisi strategik dalam perkhidmatan awam dan NGO serta parti politik. Mereka akan membangkitkan perselisihan dengan apa yang telah diamalkan masyarakat sejak berzaman dengan dakwaan ianya bertentangan dengan Islam. Dengan pengaruh dan kuasa agenda Salafi Wahabi ialah untuk menjadikan umat Islam di Malaysia berpaksikan fahaman mereka.

Dan sedia maklum sememangnya golongan inilah pelampau agama dan ramai jaringan pengganas antarabangsa adalah berpaksikan kepada ideologi atau doktrin Salafi Wahabi dalam beragama dan berpegang kepada doktrin menghukum dan tabdi’. Sememangya sejarah munculnya dan berkembanganya aliran Salafi wahabi ialah kerana agenda politik yang bertopengkan agama. Bahkan tuduhan propaganda mereka dengan menegatifkan ulama dan kitab-kitab Melayu jawi sebagai menyeleweng dan jumud serta taksub kepada mazhab dan taksub kepada bangsa Melayu.

Justeru usaha memepertahankan umat Islam dengan jatidiri ASWJ menjadi tanggungjawab bersama umat Islam terutamanya pemerintah sebelum ianya menjadi barah dalam masyarakat di Malaysia kerana ianya akan memecahbelahkan masyarakat dan mengelirukan kefahaman agama Islam yang sebenar..

WAHABI AMAT MUDAH MENGKAFIRKAN ORANG LAIN.

Sejak kebelakangan ini, isu Salafi Wahhabi menjadi buah mulut masyarakat di Malaysia, khususnya di kalangan ahli ilmu. Dikatakan bahawa, kefahaman Salafi Wahhabi telah tersebar meluas dalam masyarakat IPTA khususnya di Malaysia. Jadi, apakah gerakan ini dan apakah matlamat mereka dalam menyebarkan ajaran mereka di dalam masyarakat.

Kalau di Mesir khususnya, isu Salafi Wahhabi sememangnya tidak pernah padam dibincangkan. Ini kerana, golongan Salafi Wahhabi di sini sememangnya berkembang secara meluas. Jadi, kebanyakkan ulama’-ulama’ muktabar di Al-Azhar berusaha untuk melawan arus deras Wahhabisme di Mesir. Ulama’-ulama’ seperti Dr. Ali Jum’ah (mufti Al-Azhar), Dr. Omar abu Hasyim (bekas rektor Al-Azhar) dan kebanyakkan ulama’-ulama’ hadis, falsafah dan syariah di Al-Azhar menentang fahaman Wahhabi dalam penulisan mahupun dalam pidato mereka.

Mengapa perlu melawan arus Wahhabisme? Siapakah Wahhabisme? Apakah matlamat mereka?

Secara ringkasnya, kumpulan Salafi Wahhabi diasaskan oleh Muhammad Abdul Wahab. Beliau menganggap umat Islam setelah zaman salaf (zaman Rasulullah s.a.w. sehingga 300 Hijrah) telah mengalami kepincangan khususnya dari sudut aqidah dan terlibat dengan amalan bid’ah.

Beliau beranggapan begitu apabila beliau melihat fenomena umat Islam pada ketika itu yang terlalu mengagungkan para wali, sering menziarahi kubur mereka, dan pelbagai lagi perkara yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w., yang dilakukan oleh umat Islam setelah zaman salaf.

Golongan utama yang menjadi sasaran Muhammad ibn Abdul Wahab dan para pengikutnya ialah golongan sufi yang giat mengembangkan ilmu akhlak dan adab dalam bermu’amalah kepada Allah dan makhluk. Mereka menuduh golongan sufi menyembah kubur para wali dan meminta pertolongan dari para wali, dan seterusnya membuktikan golongan sufi ialah golongan yang syirik.

Dari sudut aqidah pula, golongan Wahhabi terpengaruh dengan fahaman Shiekh Ibn Taimiyah dan mereka menyerang mazhab-mazhab asas ahlul sunnah wal jamaah sejak berzaman, iaitu mazhab Imam Al-Asy’ari (mazhab aqidah di Malaysia) dan mazhab Imam Al-Maturidiyah.

Bukan itu sahaja, malah mereka turut menyerang mazhab-mazhab fiqh termasuklah mazhab As-Syafi’e dan mereka menganggap hanya merekalah yang benar dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah, sedangkan perbezaan pendapat yang bercanggah dengan mazhab mereka dianggap sesat dan salah, bahkan sampai ke tahap membid’ahkan pendapat mazhab yang kontra dengan mereka.

Pelopor-pelopor mereka pada zaman ini termasuklah Sheikh al-Albani, Sheikh Ibn Baz, Sheikh Al-Uthaimin, dan Sheikh Abu Bakar al-Jaza’iri. Benteng terbesar golongan tersebut ialah di Arab Saudi, dan mereka bernaung di bawah naungan kerabat kerajaan Bani Sa’ud, kerana unsur-unsur sejarah di mana golongan Wahhabilah yang membantu Bani Sa’ud mendapatkan tahkta kerajaan di Tanah Hijjaz (Arab Saudi kini).

Kini, golongan tersebut terus menebarkan sayapnya ke serata alam dengan pelbagai cara termasuklah dengan menggunakan wang, mengedarkan buku-buku percuma tentang fahaman mereka kepada jemaah haji dan umrah dari seluruh dunia, menanam fahaman Wahhabi kepada para pelajar yang menuntut di Mekkah dan Madinah, khususnya para pelajar yang datang dari negara-negara islam yang lain.

Persoalannya, apakah matlamat sebenar golongan Wahhabi dan benarkah apa yang mereka perjuangkan?

Para ulama’ muktabar telah menyingkap persoalan tersebut secara mendalam, dan kesimpulan yang dapat mereka buat ialah, golongan Wahhabi sebenarnya cuba memecahkan kesatuan umat Islam khususnya dengan menutup pintu perselisihan pendapat dan menuduh golongan yang bercanggah dengan mereka adalah sesat dan bid’ah.

Golongan Wahhabi cuba menegaskan bahawa, perbezaan pendapat tidak dibenarkan dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah, dan hanya ada satu sahaja kefahaman yang benar dan perlu diikut, sedangkan kefahaman yang lain adalah sesat atau bid’ah.

Contohnya, dalam isu doa qunut dalam solat Subuh.Golongan Wahhabi menegah daripada membacanya sedangkan itu merupakan masalah khilafiyah (masalah yang para ulama’ berselisihan pendapat mengenainya), dan Mazhab As-Syafi’e khsusnya, menyatakan bahawa membaca qunut pada Solat Subuh adalah sunat.

Bukan itu sahaja, bahaya yang paling besar yang dibawa oleh Salafi Wahhabi ialah, At-Takfir (mengkafirkan orang lain). Golongan Wahhabi terlalu mudah mengkafirkan orang lain khususnya mereka yang mengikut golongan sufi ataupun golongan yang tidak sependapat dengan mereka. Inilah pintu perpecahan umat Islam yang paling utama. Disamping itu juga, mereka terlalu cepat membid’ahkan orang lain dan menganggap setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah yang sesat, sedangkan kebanyakkan para ulama’ menegaskan bahawa, bid’ah terbahagi kepada bid’ah yang menyesatkan dan bid’ah yang dibenarkan.

Oleh kerana itulah, kebanyakkan ulama’-ulama’ muktabar di serata dunia, menolak fahaman Wahhabi. Ini kerana, golongan Wahhabi membawa kepada perpecahan di dalam umat Islam dan membawa kepada ta’asub dan fanatik terhadap satu pendapat sahaja dan tidak membenarkan perbezaan pendapat. Inilah pintu perpecahan yang perlu ditutup dalam masyarakat Islam.

Persoalan yang lain ialah, adakah fahaman Wahhabi ini merupakan suatu fahaman yang bersesuaian dengan Ahul Sunnah wal Jammah ataupun tidak? Ataupun, persoalannya, adakah Salafi Wahhabi merupakan mazhab dalam Islam, ataupun ianya merupakan sebuah ideologi?

Para ulama’ dan guru-guru kami di Mesir khususnya telah memdedahkan banyak kesalahan para Wahhabi dalam masalah memahami al-Quran dan As-Sunnah khususnya dalam masalah aqidah.

Golongan Wahhabi mempercayai bahawa Allah s.w.t. duduk di atas Arasy dan Allah s.w.t. sedang berada di atas langit. Mereka juge percaya bahwa Allah s.w.t. mempunyai rupa paras dan berjasad. Mereka berpandukan ayat-ayat al-Quran Mutasyabihat (kesamaran maknanya), yang mana ianya tidaklah bermaksud seperti yang mereka sangka.

Ahlul Sunnah wal Jamaah secara mutlak menafikan Allah s.w.t. bertempat dan berjasad. Ini kerana, ianya menyebabkan Allah s.w.t. berhajat kepada tempat sedangkan Allah s.w.t. tidak memerlukan apa-apa pun.

Namun, di Malaysia, segelintir golongan yang terpengaruh dengan kefahaman Wahhabi hanyalah berkaitan dengan masalah fiqh, tidak bersangkutan dengan masalah aqidah. Golongan Salafi Wahhabi di Malaysia nampaknya hanya menyebarkan fahaman Wahhabi dari sudut hukum-hakam semata-mata, seperti berkaitan dengan ibadah dan pergaulan. Mereka membid’ahkan qunut, membid’ahkan tarikat sufi, membid’ahkan majlis sambutan maulid Rasulillah s.a.w. sedangkan perkara-perkara tersebut tidaklah bid’ah yang sesat seperti sangkaan mereka.

Golongan Salafi di Malaysia berkemungkinan tidak sepenuhnya memahami apa itu Wahhabi, mazhab yang mereka pegang secara mendalam. Ini kerana, buku-buku yang mendokong fahaman Wahhabi dalam Bahasa Malaysia kebanyakkannya menyebarkan fahaman Wahhabi dari sudut ibadat, tidak dari sudut Aqidah mereka.

Walaupun hanya masalah ibadah dan fiqh, yang disebarkan oleh golongan Wahhabi di Malaysia, namun bahayanya ialah, pendirian mereka dalam membid’ahkan dan menyesatkan golongan yang tidak sehaluan dengan mereka khususnya golongan sufi dan golongan yang bermazhab As-Syafi’e di Malaysia.

Sebenarnya, golongan salafi tidak sepatutnya menyebarkan fahaman Salafi Wahhabi dalam masyarakat awam di Malaysia, kerana masyarakat awam seharusnya berpegang dengan mazhab mufti dan mazhab negara mereka, di mana kebanyakkan di kalangan para mufti adalah bermazhab syafi’e dan mazhab umat Islam di negara Malaysia secara umumnya ialah mazhab Syafi’e.

Adakah golongan Salafi Wahhabi dianggap sebagain golongan mujaddid (pembaharu) yang membawa arus reformasi dalam masyarakat Islam, khususnya dalam bidang agama mereka?

Jawapannya, tidak. Ini kerana, masyarakat awam Islam di Malaysia hanya perlu mengikut mufti mereka dan mazhab mereka ialah mazhab mufti mereka, seperti yang ditekankan oleh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. Maka, fahaman-fahaman yang bertentangan dengan mazhab mufti sesebuah masyarakat seharusnya tidak boleh didedahkan dan diperbincangkan di khalayak awam agar mengelakkan perpecahan dalam masyarakat awam dan mengelakkan kekeliruan dalam umat Islam.

Maka, seruan kepada para pendokong Salafi Wahhabi di Malaysia agar tidak memecahbelahkan masyarakat dengan kefahaman Wahhabi dengan membid’ahkan sesuatu perkara sewenang-wenangnya. Boleh jadi, sesuatu yang kita anggap ia merupakan bid’ah ada dalilnya dalam Islam, Cuma kita sahaja yang tidak mengetahuinya. Bukankah lebih baik agar kita tidak memecahkan perpaduan masyarakat Islam di Malaysia yang seharusnya berpegang dengan mufti mereka selagimana para mufti masih berpegang dengan Al-Quran dan As-Sunnah.

Semoga Allah membantu kita dalam mengembalikan kedaulatan Islam dan menegakkan perpaduan dalam umat Islam.

Wallahu a’lam….

AWAS WAHABI.

AWASI WAHHABI : GOLONGAN MUJASSIMAH MODEN?

(Satu Penjelasan berdasarkan Hukum Para Ulama)



Perlu diketahui bahawa golongan yang paling banyak kesesatan pada hari ini adalah Mujassimah (Yang menyatakan Allah itu berjisim) dan Musyabbihah (Yang menyatakan Allah itu menyerupai makhluk). Golongan Wahhabi adalah mereka yang paling jelas menyamakankan Allah dengan makhluk. Dan ketahuilah bahawa Musyabbihah dan Mujassimah adalah KAFIR.


Oleh kerana golongan sesat ini menyebarkan aqidah sesat mereka kepada orang awam termasuk anak-anak orang islam.
Maka wajiblah kepada kita orang islam yang beraqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah tidak senyap dari mengawasi golongan sesat ini.

Diceritakan bahawa tokey Wahhabi bernama Abdullah bin Hasan cucu kepada Muhammad Bin Abdul Wahhab banyak menyuarakan aqidah sesatnya di Makkah sejak sebelum 70 tahun lalu dengan mengatakan dalam keadaan dia turun dari tangga, katanya :
“ Allahu Yanzil Kanuzuli Haza ” kata-kata kufur yang bermaksud : “ Allah turun seprtimana aku turun ini ”.

Kenyataan kufur tersebut telah didengar oleh ramai para ulama termasuk Syeikh Ali Bin Abdul Rahman As-Somaly yang tinggal dan mengajar di Makkah.

Maka tidak harus bagi kita umat islam senyap membisu tidak mengawasi orang islam dari ajaran sesat Wahhabi ini. Adakah mengingkari kemungkaran dianggap memecahbelahkan umat islam? Tidak sama sekali!.

Mengkafirkan orang yang amat jelas kekafirannya bukanlah memecahbelahkan saf orang islam, bahkan ianya merupakan penjelasan kebenaran kerana bagaimana kita orang islam berkesedudukan dengan ajaran sesat Wahhabi yang mengkafirkan kita umat islam dan menghalalkan darah seluruh umat islam?!.



PRINSIP WAHHABI


Golongan Wahhabi menganggap sesiapa yang tidak menuruti aqidah mereka yang menjisimkan Allah dan menyamakan Allah dengan makhlukNya maka orang itu dikira kafir dan halal darahnya. Lihat sahaja prinsip utama Wahhabi tesebut seperti yang tertera dalam kitab utama mereka mengatakan :

“ Bunuhlah ahli sufi yang soleh sebelum kamu membunuh yahudi dan majusi ”.

Diantara Wahhabi yang menjelaskan prinsip utama wahhabi adalah “Sesiapa yang tidak mengatakan Allah Duduk dan tidak menuruti aqidah mereka yang menjisimkan Allah dan menyamakan Allah dengan makhlukNya maka orang itu dikira kafir dan halal darahnya ” yang menyatakan prinsip Wahhabi adalah sedemikian seorang ulama Wahhabi bernama Ali bin Muhammad bin Sinan seorang pengajar salah sebuah universiti di Madinah dan pengarang kitab Almajmuk Almufid Min Aqidah At-tauhid.



ULAMA MAZHAB HAMBALI MENJELASKAN PERIHAL WAHHABI


Mufti Mekah bernama Muhammad Bin Abdullah Bin Hamid Al-Hambali An-Najdi menyatakan didalam kitabnya berjudul As-Suhubul Wabilah ‘Ala Dhoroih Al-Hanabilah.

Dalam kitab tersebut Mufti Mekkah menjelaskan latar belakang 800 orang para fuqoho’ dari mazhab Hambali. Diantara yang diceritakan oleh Mufti mengenai seorang alim mazhab Hambali bernama Abdul Wahhab Bin Sulaiman yang merupakan bapa kepada seorang pengasas ajaran sesat Wahhabi bernama Muhammad Bin Abdul Wahhab.

Mufti menceritakan bahawa bapa Muhammad Bin Abdul Wahhab tidak meredhoi anaknya itu kerana pengasas Wahhabi itu mengkafirkan sesiapa sahaja yang tidak sependapat dengannya bahkan pengasas Wahhabi tersebut menghalal pembunuhan umat islam yang tidak mengikutnya. Sila lihat pada kitab tersebut dimukasurat 276 cetakan pertama di Riyadh.



WAHHABI MEMBUNUH 3000 UMAT ISLAM DI JORDAN

Telah berlaku satu peristiwa yang amat menyayathati umat islam pada 1920an iaitu pembunuhan Wahhabi terhadap umat islam di Timur Jordan. Disitu Wahhabi telah membunuh bukan 3 orang tetapi 3000 orang islam yang tidak mengikut mereka dengan menyembelih umat islam seperti kambing dalam pada penyembelihan itu Wahhabi mengatakan: “Ayuh kita bunuh kafir ini kerana tak ikut kita!”.
Kisah pembunuhan Wahhabi terhadap 3000 umat islam di Timur Jordan ini tertera dikebanyakan perpustakaan di Jordan.



WAHHABI : MUJASSIMAH
(Mujassimah Adalah Golongan Kafir Disisi Seluruh Ulama Islam)

Wahhabi adalah kaum Mujassimah yang menjisimkan Allah. Mujassimah adalah kafir kerana Imam Syafie rodhiyallahu ‘anhu menyatakan :
“ Al-Mujassim Kafir ” kata-kata Imam Syafie itu bermaksud : “ Mujassim (Yang mengatakan Allah itu jisim seperti Wahhabi) adalah kafir ”.

Kenyataan Imam Syafie yang mengkafirkan Mujassimah tersebut diriwayatkan oleh Imam Suyuti dalam kitabnya Al-Asbah Wa An-Nazoir mukasurat 488 cetakan Darul Kutub Ilmiah.

Mari kita lihat kenyataan Imam Ahmad Bin Hambal dan para ulama mazhab Hambali yang mempersetujui kenyataan Imam Ahmad mengatakan :
“ Man Qola Allahu Jismun Faqod Kafar Wakaza Man Qola Allahu Jismun La Kal Ajsam ” kenyataan Imam Ahmad bermaksud : “ Sesiapa yang mengatakan Allah berjisim maka dia telah kafir, begitu juga kafirlah yang mengatakan Allah itu berjisim tapi tak serupa dengan jisim-jisim ”. Lihat Sohibul Khisol diantara ulama mazhab Hambali yang masyhur.

Seorang ulama mazhab Hambali terkenal bernama Muhammad Bin Badruddin Bin Balban Ad-Dimasyqi Al-Hambali dalam kitabnya berjudul Muktasor Al-Ifadat mukasurat 490 menyatakan :
“ Allah tidak menyerupai sesuatu dan sesuatupun tidak menyerupai Allah, sesiapa menyamakan Allah dengan sesuatu maka dia KAFIR seperti mereka yang menyatakan Allah itu berjisim, begitu jugak kafir yang menyatakan Allah itu berjisim tapi tak seperti jisim-jisim ”.

Begitu juga Imam Malik dan Imam Abu Hanifah jelas mengkafirkan golongan Mujassimah.
Mari kita lihat apa yang telah dinukilkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitabnya berjudul Al-Minhaj Al-Qowim Syarh Muqaddimah Al-Hadhromiyah :
“ Ketahuilah bahawa Al-Qorrofi dan selainnya telah menukilkan dari Imam Syafie, Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah rodhiyallahu ‘anhum bahawa mereka semua mengkafirkan mujassimah ”.


WAHHABI MENYEMBAH JISIM YANG BERBETIS

Wahhabi adalah golongan yang amat malang. Ulama islam mengharap sangat sekiranya golongan Wahhabi ini diberikan pemahaman ayat Allah “Laisa Kamithilihi Syai” dalam surah As-Syura ayat 11 yang bermaksud “ Tiada sesuatupu menyerupaiNya”.
Puluhan ulama Wahhabi menyebarkan perkara kufur dengan mengatakan :
“ Allah meletakkan kakiNya yang berbetis kedalam api neraka kemudian mengatakan ada lagi ke? ”.
Lihatlah betapa sesatnya mereka!


WAHHABI MENGATAKAN : NABI MUHAMMAD ADALAH PATUNG BERHALA.

Tidak cukup bagi Wahhabi mengkafirkan umat islam dan menghalalkan darah orang islam yang tidak mengikut mereka.

Wahhabi sejak 8 tahun dimusim haji menyatakan prinsip mereka adalah ¾ orang islam sekarang adalah kafir dan halal darah mereka.Wahhabi juga mengatakan :
“ Kami menjual tasbih ( yang dianggap bid’ah sesat oleh Wahhabi) hanya kepada orang musyrik di tanah haram ini ”. Sudah pasti ramai diantara kita membeli tasbih disana.


Seorang ulama Wahhabi bernama Abu Bakar Al-Jajairy menyatakan dalam Masjid Nabawi di Madinah pada tahun 1993M dengan katanya : “Aku bersumpah bahawa islam tidak akan bangkit selagi patung berhala ini (sonam) tidak dikeluarkan dari masjid ini” sambil tangannya mengarah kepada maqam Nabi Muhammad.

Apakah dosa Nabi Muhammad kepada ulama Wahhabi ini sehingga Wahhabi menamakan Nabi Muhammad itu sebagai berhala?!.



PENUTUP UNTUK KALI INI.

Sesetengah orang menganggap bahawa perbuatan menjelaskan kesesatan dan kekafiran Wahhabi ini adalah suatu yang memecahbelah saf umat islam.

Saudara islam sekalian, ketahuilah! Sekiranya anda memahami betapa bahaya lagi sesatnya ajaran Wahhabi ini maka anda akan lebih sensitif kerana kejahatan dan kesesatan Wahhabi ini amat bahaya.

Kepada yang mengatakan :bagaimana kita menyesatkan orng yang mengucap dua kalimah syahadah?!

Ketahuilah! Walaupun seseorang itu mengucap dua kalimah syahadah tapi aqidahnya masih kafir lagi sesat dan dia tidak mengenal Tuhannya dengan mengatakan :
“Allah itu berjisim” maka dia bukan islam.

Imam Abu Hasan Al-Asya’ry menyatakan dalam kitabnya berjudul An-Nawadir :
“ Al-Mujassim Jahil Birobbihi Fahuwa Kafirun Birobbihi” kenyataan Imam Abu Hasan Al-Asy’ary tersebut bermaksud :
“ Mujassim ( yang mengatakan Allah itu berjisim) adalah jahil mengenai Tuhannya, maka dia dikira kafir dengan Tuhannya ”.

Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (wafat 725) dalam kitab Najmul Muhtadi menukilkan dari Al-Qodi Husain bahawa Imam Syafie menyatakan :
“ Sesiapa beranggapan Allah duduk diatas arasy maka dia KAFIR ”.

Mari kita lihat pandangan ulama Hanafi.

Syeikh Kamal Bin Al-Humam Al-Hanafi menyatakan dalam kitab mazhab Hanafi berjudul Fathul Qadir juzuk 1 mukasurat 403 pada Bab Al-Imamah :
“ Sesiapa yang mengatakan Allah itu jisim ataupun Allah itu jisim tapi tak serupa dengan jisim-jisim maka dia telah KAFIR ( ini kerana jisim bukanlah sifat Allah )”.

Maka Wahhabi adalah Mujassimah yang beranggapan bahawa Allah itu jisim duduk diatas arasy.
Tidak harus bagi kita senyap dari mempertahankan aqidah islam dan menjelaskan kesesatan ajaran sesat!.

Wassalam.

AL-MADAD

Al-Madad, Al-Madad, Al-Madad Ya Rasulallah. Yang diterjemahkan: Pertolongan mu, pertolongan mu, pertolongan mu Ya Rasulullah.

Apa maksud Madad?

• مَدَد (ج. أَمْدَاد)[اسم] عون

[n] help, aid

• إِمْدَاد (ج. إِمْدَادَات)[اسم\مص.] معونة

[n/src] help, assistance

[اسم\مص.] تزويد

[n/src] equipping, providing

Sebahagian melaungkan qasidah ini tanpa ada niat memohon pertolongan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, dan kita berharap inilah yang diyakini kebanyakan mereka yang membaca Qasidah itu. Akan tetapi terdapat sebahagian mereka yang benar-benar meyakini bahawa boleh meminta tolong daripada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam selepas kewafatan baginda kerana mereka berpegang bahawa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup di alam kubur, dan mampu mendoakan umatnya sebagaimana ketika baginda sallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup.

Di sini, Al-Kahfi membawakan kepada pembaca fatwa-fatwa para ilmuan Islam berkaitan hal ini:

Fatwa Islamweb.net

Fatwa no: 230005

Tajuk:

حكم قول: مدد يا رسول الله، دون قصد الاستغاثة

Hukum berkata: Madad Ya Rasulullah tanpa niat memohon pertolongan (kepada baginda sallallahu ‘alaihi wasallam selepas kewafatannya)

Soalan:

ما حكم قول: مدد يا رسول الله، دون قصد الاستغاثة أو طلب العون؟ وما حكم من قالها جاهلا معناها؟

Apakah hukum berkata: Madad Ya Rasulullah tanpa niat memohon pertolongan? Apa pula hukumnya orang yang berkata demikian kerana tidak faham maksudnya.

Jawapan:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد: فإن طلب المدد من الأموات عموما، إنما هو دعاء لغير الله تعالى، وهو شرك. وانظر الفتوى رقم: 41011 وما أحيل عليها. وإن كان القائل لا يقصد الاستغاثة، ولا طلب العون، فماذا يقصد إذن؟!

Memohon pertolongan daripada si mati secara umumnya sesungguhnya ia adalah bentuk doa kepada selain Allah. Ia syirik. Seandainya yang berkata tidak bermaksud mahu memohon pertolongan, lalu apa tujuan sebenarnya?

وعموما فمن قال ذلك وهو يجهل معناه، أو يجهل حكمه، فإنه يعذر بجهله حتى تقام عليه الحجة؛ كما سبق في الفتوى رقم: 172957

Umumnya, sesiapa yang menyatakan perkataan itu dalam keadaan jahil kepada maksudnya atau jahil kepada hukumnya, sesungguhnya dia diberikan keuzuran atau kebodohannya sehingga ditegakkan hujah kepadanya.

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=230005

Fatwa No: 41011

ما حكم من يقول: مدد يا رسول الله، أدركني يا رسول الله، يا رسول الله ادع لنا، ويعتقدون أن رسول الله حي يزورهم؟

Apakah hukumnya berkata: Tolonglah kami ya Rasulullah, tunaikan permintaan kami Ya Rasulullah, ya Rasulullah berdoalah untuk kami, dan beri’tiqad bahawa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup dan menziarahi mereka?

Jawapan:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:

فإن قول القائل “يا رسول الله، وأدركني يا رسول الله” هو من الدعاء الصريح لغير الله، وذلك كفر مخرج من الملة، فالله تعالى شرع لعباده أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، فلا يدعى إلا الله، ولا ينذر إلا لله، ولا يستغاث بغير الله، ولا يركع ولا يسجد إلا له… والدعاء والاستغاثة من أشرف العبادات، لاشتمالها على الذل والخضوع.

Sesungguhnya perkataan: Tolonglah kami ya Rasulullah, tunaikan permintaan kami Ya Rasulullah, merupakan doa kepada selain Allah. Ia merupakan kekufuran yang mengeluarkan daripada agama Allah. Allah mensyariatkan kepada hamba-hambaNya untuk menyembahNya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apa pun. Tidak dipohon doa kecuali kepada Allah, tidak dilakukan nazar kecuali kerana Allah, tidak memohon pertolongan selain daripada Allah, tidak rukuk dan sujud selain kepadanya. Doa dan istighasah (memohon pertolongan) merupakan semulia-mulia ibadat kerana ia merangkumi sifat merendah diri dan tunduk.

روى أحمد والترمذي وأبو داود وابن ماجه من حديث النعمان بن بشير أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: الدعاء هو العبادة. وقرأ: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ [غافر: 60].

وانظر المزيد في الفتوى رقم: 27752.

Imam Ahmad, at-Tirmizi, Abu Daud dan Ibn Majah meriwayatkan hadis an-Nu’man bin Basyir bahawa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Doa itu ibadah, kemudian membaca: Tuhan kalian berkata: Mintalah kepada Ku, nescaya Aku perkenankan.

وأما عن حياة رسول الله صلى الله عليه وسلم فإنه حي عند الله حياة لا كالحياة الدنيوية، فالله تعالى إذ اصطفى طائفة من خلقه بأن صيرهم بعد الموت أحياء عنده، كما قال تعالى: وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ [آل عمران:169]. فرسول الله صلى الله عليه وسلم أولى بالاصطفاء، لأنه أفضل خلق الله،

Adapun kehidupan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, maka hidupnya di sisi Allah tidak seperti kehidupan di dunia. Sesungguhnya Allah apabila memilih sekelompok daripada makhluknya dengan membuatkan mereka hidup di sisiNya selepas kematian mereka. Sebagaimana firman Allah: Janganlah kalian menyangka mereka yang terbunuh di jalan Allah mati, bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mereka diberika rezeki. [Ali 'Imran : 169]. Maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam lebih utama untuk terpilih kerana baginda sallallahu ‘alaihi wasallam merupakan makhluk Allah yang paling afdhal.

ولكن حياته لا تعني أنه يزور الناس في أماكنهم أو يحضر جلساتهم وأذكارهم ويدعو لهم، إذ لو جاز أن يفعل شيئا من ذلك، لفعله مع صحابته وخلفائه وهم أفضل أمته وأعز الخلق عليه.

والله أعلم.

Tetapi hidupnya tidak bermaksud baginda sallallahu ‘alaihi wasallam akan menziarahi manusia di tempat mereka, atau menghadiri majlis-majlis mereka, lalu berdoa untuk mereka. Seandainya baginda sallallahu ‘alaihi wasallam boleh melakukan hal ini, nescaya baginda sallallahu ‘alaihi wasallam akan melakukannya bersama-sama sahabat-sahabatnya, khalifah-khalifahnya kerana mereka adalah umatnya yang paling utama dan paling dicintai olehnya.

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=41011

Fatwa Shaikh Bin Baz

Soalan:

نسمع أقواما ينادون: مدد يا رسول الله، أو مدد يا نبي، فما الحكم في ذلك؟

Kami mendengar sekelompok manusia menyeru: Madad Ya Rasulallah, Madad Ya Nabi. Apakah hukum perbuatan tersebut?



هذا الكلام من الشرك الأكبر، ومعناه طلب الغوث من النبي- صلى الله عليه وسلم-

Perkataan ini merupakan satu syirik yang besar. Ia bermaksud memohon pertolongan daripada Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam.



وقد أجمع العلماء من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم- رضي الله عنهم- وأتباعهم من علماء السنة على أن الاستغاثة بالأموات من الأنبياء وغيرهم، أو الغائبين من الملائكة أو الجن وغيرهم، أو بالأصنام والأحجار والأشجار أو بالكواكب ونحوها من الشرك الأكبر

Ulama’-ulama; daripada kalangan sahabat radiallahu ‘anhum ajma’in, dan jua anak-anak murid mereka daripada kalangan ulama’ Sunnah telah Ijma’ (sepakat) bahawa memohon pertolongan daripada si mati daripada kalangan nabi-nabi dan selain mereka, malaikat, jin dan selainnya, berhala, batu-batu, pokok-pokok mahupun bintang-bintang dan selainnya merupakan syirik besar.

Fatwa penuh di sini:

http://www.binbaz.org.sa/mat/229

Petikan daripada Al-Qaul Al-Mufid oleh Shaikh Muhammad bin Saleh al-Uthaimin:

الثاني: دعاء المسألة، فهذا ليس كله شركاً، بل فيه تفصيل، فإن كان المخلوق قادراً على ذلك، فليس بشرك، كقوله: اسقني ماء لمن يستطيع ذلك. قال : “من دعاكم فأجيبوه”(1)، وقال تعالى: وإذا حضر القسمة أولو القربى واليتامى والمساكين فارزقوهم منه [النساء: 8]. فإذا مد الفقير يده، وقال: ارزقني، أي: اعطني، فليس بشرك، كما قال تعال: فارزقوهم منه، وأما أن دعا المخلوق بما لا يقدر عليه إلا الله، فإن دعوته شرك مخرج عن الملة.

مثال ذلك: أن تدعو إنساناً أن ينزل الغيث معتقداً أنه قادر على ذلك.

Kedua: Doa masalah. Untuk hal ini bukan kesemuanya menjadi syirik (apabila dipohon kepada selain Allah). Sebaliknya terdapat perincian padanya. Seandainya makhluk itu memang mampu ke atas apa yang dipohon, maka tidaklah ia menjadi syirik. Ia umpama perkataan: Berilah aku minum… kepada sesiapa yang mampu untuk memberi minuman itu. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Sesiapa yang meminta kepada kalian, tunaikanlah permintaannya [Musnad Ahmad, Abu Daud,, an-Nasaie, dan al-Hakim]. Allah Taala jua berfirman: Dan apabila sewaktu pembahagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu

Apabila seorang yang miskin menadahkan tangannya (kepada manusia), lalu berkata: Berikanlah rezeki kepada aku, ini bukanlah syirik. Ini sebagaimana firman Allah di atas: Berikanlah rezeki kepada mereka. Adapun jika seseorang memohon kepada makhluk sesuatu yang tiada sesuatu berkuasa ke atasnya melainkan Allah, maka permohonan atau doanya itu merupakan syirik yang mengeluarkan seseorang daripada agama.

والمراد بقول الرسول: “من مات وهو يدعو من دون لله نداً” المراد الند في العبادة، أما الند في المسألة، ففيه التفصيل السابق. ومع الأسف، ففي بعض البلاد الإسلامية من يعتقد أن فلاناً المقبور الذي بقى جثة أو أكلته الأرض ينفع أو يضر، أو يأتي بالنسل لمن لا يولد لها، وهذا – والعياذ بالله – شرك أكبر مخرج من الملة، وإقرار هذا أشد من إقرار شرب الخمر والزنا واللواط، لأنه إقرار على كفر، وليس إقراراً على فسوق فقط.

Jadi, yang dimaksudkan dengan sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam: Barangsiapa yang mati dalam keadaan meminta kepada selain Allah sebagai sekutu kepada Allah yang dimaksudkan disini ialah penyekutuan dalam doa ibadah. Adapun penyekutuan dalam hal doa masalah, maka ia diperincikan sebagaimana telah disebutkan.

Sungguh menyedihkan, di sebahagian negara Islam, terdapat manusia yang berkeyakinan bahawa seseorang yang telah dikuburkan mampu memberi manfaat atau mudharat, mampu memberikan zuriat kepada mereka yang tiada zuriat. Ini semua – semoga dilindungi Allah- merupakan syirik yang besar yang mengeluarkan seseorang daripada agama. Berkeyakinan dengan kepercayaan ini lebih teruk daripada minum arak, zina mahupun liwat, ini kerana ia merupakan perkara membawa kepada kekufuran dan bukan setakat kepada kemaksiatan sahaja.

Dr. Safar al-Hawali hafizahullah berkata berkaitan Kehidupan Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam Selepas Wafat:

أما إذا قيل: إنه ما دام حياً إذاً ندعوه، ونستغيث به، ونتوسل به، فنقول: لا، هذا خطأ، فالصحابة رضوان الله تعالى عليهم، كانوا يتوسلون بدعائه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، واستسقوا بدعائه في حياته، ولما مات استسقوا بعمه العباس ،

Adapun jika dikatakan: Sesungguhnya baginda sallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup (selepas kewafatannya), maka kita berdoa kepadanya, memohon pertolongannya, bertawassul dengannya. Kami berkata: Ini salah. Para sahabat radiallahu ‘anhum ajma’in pernah bertawassul dengan doa baginda sallallahu ‘alaihi wasallam, dan meminta hujan dengan doa baginda sallallahu ‘alaihi wasallam ketika baginda sallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Apabila telah meninggal dunia, mereka meminta hujan melalui pakcik baginda iaitu al-’Abbas radiallahu ‘anhu.

فالنبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ موجود ولكن لم يقولوا أنه حي، وعرفوا أن هذا العمل يكون من الأحياء وأنه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بموته لا تلحقه الأحكام التي كانت له في حياته ولكن في حدود ما ورد فقط،

Nabi sallallahu ‘alaihi wasalam wujud tetapi mereka (iaitu para sahabat radiallahu ‘anhum ajma’in) tidak menyatakan baginda sallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Mereka memahami bahawa perbuatan (meminta doa, bertawassyul) hanya berlaku kepada yang masih hidup, dan Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah mati, baginda sallallahu ‘alaihi wasallam tidak lagi terikat dengan hukum-hakam yang ada pada hidupnya, sebaliknya ia terbatas sekadar pada apa yang tertulis dalam nas sahaja.

والنبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في الحديث الصحيح أمر عمر أن يطلب من أويس القرني وهو تابعي، أن يستغفر له، فلماذا يطللب منه وهو من التابعين ولا يطلب ذلك من النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟

Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis yang sahih menyuruh ‘Umar meminta ‘Uwais al-Qarni mendoakan keampunan untuknya sedangkan ‘Uwais hanyalah seorang tabiin. Kenapa perlu meminta doa daripadanya sedangkan dia seorang tabiin, dan kenapa tidak meminta hal itu daripada Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam?

نقول: هكذا شرع رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بعد وفاته لا نتقرب ولا نعمل أي عمل إلا بما ورد عنه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فقط، والكلام في هذا كثير، وحسبنا ذلك.

Kami berkata: Inilah syariat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam selepas kewafatannya. Kita tidak mendekatkan diri kepada Allah, tidak beramal melainkan dengan apa yang datang daripada Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam sahaja. Huraian tentang hal ini sungguh banyak, cukuplah untuk kita hal itu.

Saudara-saudara sekalian, renungilah hadis di bawah. Apalah sangat panggilan sayyid kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berbanding perkataan A-Madad, tetapi jika perkataan sayyid itupun Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam tegur, inikan pula perkataan al-Madad:

عَنْ مُطَرِّفٍ، قَالَ : قَالَ أَبِي : انْطَلَقْتُ فِي وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْنَا : أَنْتَ سَيِّدُنَا ‏.‏ فَقَالَ ‏”‏ السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ‏”‏ ‏.‏ قُلْنَا : وَأَفْضَلُنَا فَضْلاً وَأَعْظَمُنَا طَوْلاً ‏.‏ فَقَالَ ‏”‏ قُولُوا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ

Abdullah bin asy-Syikhkhir Radiallahu ‘anhu berkata, “Ketika aku pergi bersama delegasi Bani ‘Amir untuk menemui Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, kami berkata kepada baginda : Engkau adalah tuan kami. Baginda menjawab: Tuan kita adalah Allah Tabaraka wa Taa’la. Kami berkata lagi: Engkau adalah yang paling utama dan paling mulia. Baginda menjawab : Berkatalah dengan perkataan yang biasa kalian sebutkan atau seperti sebahagian ucapan kalian. Jangan sampai syaitan mengheret kalian. [Sunan Abi Daud, Kitab al-Adab, hadis no : 4806, Shaikh al-Albani mensahihkannya]

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ سَمِعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، يَقُولُ : عَلَى الْمِنْبَرِ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ ، فَقُولُوا : عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Ibn ‘Abbas radiallahu ‘anhuma meriwayatkan beliau mendengar ‘Umar radiallahu berkata di atas mimbar: Aku pernah mendengar Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jangan melampau dalam memuliakan aku sebagaimana melampaunya Kristian dalam memuliahkan Ibn Maryam. Sesungguhnya aku hambaNya, sebutlah: Hamba Allah dan utusanNya.

[Sahih al-Bukhari, Kitab Ahadis al-Anbiya’, hadis no: 3213]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ النَّجْرَانِيِّ ، قَالَ : حَدَّثَنِي جُنْدَبٌ ، قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ ، وَهُوَ يَقُولُ : ” إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ ، أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى ، قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا ، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا ، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا ، لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا ، أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ ” .

Jundub radiallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada lima hari sebelum kewafatannya: Aku berlepas diri kepada Allah daripada menjadikan sesiapa di kalangan kalian sebagai kekasih ku. Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai kekasihNya sebagaimana dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasihNya. Seandainya aku boleh mengambil seseorang daripada umat ku sebagai kekasih, nescaya aku menjadikan Abu Bakar kekasih ku. Sesungguhnya kaum sebelum kalian telah menjadikan kubur-kubur nabi dan orang soleh mereka sebagai masjid. Janganlah kalian jadikan kubur sebagai masjid, aku melarang kalian daripada hal itu.

[Sahih Muslim, Kitab al-Masajid, hadis no: 832]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا ، لَعَنَ اللَّهُ قَوْمًا اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Abu Hurairah radiallahu ‘anhu meriwayatkan Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kubur ku sembahan manusia, Allah telah melaknat kaum yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid.

[Musnad Ahmad, Musnad Abu Hurairah, hadis no: 7184, Shaikh Syu’aib al-Arnouth berkata: Isnadnya kuat]



Apakah contoh melampau dalam mengagungkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam?

Meletakkan sifat-sifat ketuhanan kepada Rasulullah sallalalhu ‘alaihi wassalam sebagaimana perkataan Al-Madad. Ia merupakan perbuatan syirik.

وأما الربوبية والإلهية فهما حق الله تعالى ، لا يشركه فى شئ منهما ملك مقرب ولا نبى مرسل .

Adapun sifat-sifat Rububiyyah mahupun Ilahiyyah. Kedua-duanya adalah hak Allah Taala. Tidak boleh menyekutukannya dengan sesuatu hatta dengan para malaikat yang rapat denganNya atau dengan para nabi yang diutus. (Fathul Majid)

قل لا أملك لنفسي نفعاً ولا ضراً إلا ما شاء الله ]الإعراف: 188[،

Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak mampu memberi manfaat kepada diri ku mahupun mudharat melainkan apa yang diKehendaki Allah [al-A’raf : 188]

وقال تعالى: قل إني لا أملك لكم ضراً ولا رشداً. قل إني لن يجيرني من الله أحد] الجن: 21،22[

Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku tidak mampu meemudharatkan kalian dan tidak jua mampu memberi petunjuk. Sesungguhnya aku, tiada siapa pun yang dapat menyelamatkan aku daripada Allah. [al-Jin : 21-22]

فهو بشر مثلنا؛ إلا أنه يوحى إليه، قال تعال: قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إليّ أنما إلهكم إله واحد]فصلت: 6[

Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku ini manusia seperti kalian, diberikan wahyu kepada aku. Sesungguhnya yang layak disembah hanyalah Tuhan yang Satu [Fussilat : 6]



Sumber: http://www.alhawali.com/index.cfm?method=home.SubContent&ContentID=1529

Seruan kami kepada semua umat Islam:

1) Tinggalkanlah lafaz-lafaz qasidah atau puisi yang mempunyai syubhat akidah. Qasidah, puisi semuanya bagus jika isinya bagus, dan rosak apabila isinya rosak. 2) Kembalilah kepada kesucian tauhid 3) Untuk para ilmuan Islam, bersuaralah sejelas-jelasnya menentang hal ini. Dakwah tidak dibentang dengan permaidani merah, katakan yang benar kerana keredhaan manusia kesemuanya tidak akan dapat digapai jika itulah yang kita mahukan. Carilah keredhaan Allah. 4) Untuk semua pencinta tauhid pembenci syirik, dakwahilah manusia dengan harap mereka kembali ke jalan Allah, bukan dengan cercaan dan ejekan yang hanya menjauhkan manusia daripada Allah.
Semoga Allah ampuni dosa kita semua, beri hidayah kepada kita semua untuk kembali kepada Tauhid, dan memberi kita kekuatan untuk istiqamah di atas jalan Tauhid.

Al-Madad, Al-Madad, Al-Madad…. Ya Allah.

KENAPA KITA MENYAMBUT MAULIDUR ROSUL?????

KENAPA KITA MENYAMBUT MAULID NABI??? INILAH HUJJAH-HUJJAHNYA.KENAPA KITA MENYAMBUT MAULID NABI??? INILAH HUJJAH-HUJJAHNYA…oleh Al-Asyairah Al-Syafii pada pada 07hb Februari 2011 pukul 4.22 ptg
SEJARAH PERINGATAN MAULID NABI

Siapakah orang yang pertama menyambut maulid Nabi???

Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh raja Irbil (wilayah Iraq sekarang), bernama Muzhaffaruddin al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata:

“Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang yang berani, pahlawan,` alim dan seorang yang adil -semoga Allah merahmatinya-”.

Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn al-Jauzi bahawa dalam peringatan tersebut Sultan al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama’ dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama’ dalam bidang ilmu fiqh, ulama’ hadits, ulama’ dalam bidang ilmu kalam, ulama’ usul, para ahli tasawwuf dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan mawlid Nabi beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama’ saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandang dan menganggap baik perayaan maulid Nabi yang dibuat untuk pertama kalinya itu.

Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat al-A`yan menceritakan bahawa al-Imam al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Moroco menuju Syam dan seterusnya ke menuju Iraq, ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijrah, beliau mendapati Sultan al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh kerana itu, al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “al-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir”. Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada Sultan al-Muzhaffar.

Para ulama’, semenjak zaman Sultan al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahawa perayaan maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Para ulama terkemuka dan Huffazh al-Hadits telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-’Iraqi (W. 806 H), Al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani (W. 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W. 911 H), al-Hafizh aL-Sakhawi (W. 902 H), SyeIkh Ibn Hajar al-Haitami (W. 974 H), al-Imam al-Nawawi (W. 676 H), al-Imam al-`Izz ibn `Abd al-Salam (W. 660 H), mantan mufti Mesir iaitu Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W. 1354 H), Mantan Mufti Beirut Lubnan iaitu Syeikh Mushthafa Naja (W. 1351 H) dan terdapat banyak lagi para ulama’ besar yang lainnya. Bahkan al-Imam al-Suyuthi menulis karya khusus tentang maulid yang berjudul “Husn al-Maqsid Fi ‘Amal al-Maulid”. Karena itu perayaan maulid Nabi, yang biasa dirayakan di bulan Rabi’ul Awwal menjadi tradisi ummat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.

Hukum Peringatan Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad sallallahu`alaihi wasallam yang dirayakan dengan membaca sebagian ayat-ayat al-Qur’an dan menyebutkan sebagian sifat-sifat nabi yang mulia, ini adalah perkara yang penuh dengan berkah dan kebaikan kebaikan yang agung. Tentu jika perayaan tersebut terhindar dari bid`ah-bid`ah sayyi-ah yang dicela oleh syara’. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa perayaan Maulid Nabi mulai dilakukan pada permulaan abad ke 7 Hijrah. Ini bererti perbuatan ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam, para sahabat dan generasi Salaf. Namun demikian tidak bererti hukum perayaan Maulid Nabi dilarang atau sesuatu yang haram. Kerana segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam atau tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya belum tentu bertentangan dengan ajaran Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam sendiri. Para ulama’ menyatakan bahawa perayaan Maulid Nabi adalah sebahagian daripada bid`ah hasanah (yang baik). Ertinya bahawa perayaan Maulid Nabi ini merupakan perkara baru tetapi ia selari dengan al-Qur’an dan hadith-hadith Nabi dan sama sekali tidak bertentangan dengan keduanya.

Dalil-Dalil mengenai Peringatan Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi masuk dalam anjuran hadith nabi untuk membuat sesuatu yang baru yang baik dan tidak menyalahi syari`at Islam. Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam bersabda:

“مَنْ سَنَّ فيِ اْلإِسْـلاَمِ سُنَّةً حَسَنـَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ”. (رواه مسلم في صحيحه)”.

Ertinya:

“Barang siapa yang melakukan (merintis) dalam Islam sesuatu perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala daripada perbuatan baiknya tersebut, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya selepasnya, tanpa dikurangkan pahala mereka sedikitpun”.

(Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya).

Faedah daripada Hadith tersebut:

Hadith ini memberikan kelonggaran kepada ulama’ ummat Nabi Muhammad sallallahu`alaihi wasallam untuk melakukan perkara-perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an, al-Sunnah, Athar (peninggalan) mahupun Ijma` ulama’. Peringatan maulid Nabi adalah perkara baru yang baik dan sama sekali tidak menyalahi satu-pun di antara dalil-dalil tersebut. Dengan demikian bererti hukumnya boleh, bahkan salah satu jalan untuk mendapatkan pahala. Jika ada orang yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi, bererti ia telah mempersempit kelonggaran yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang belum pernah ada pada zaman Nabi.

2. Dalil-dalil tentang adanya Bid`ah Hasanah yang telah disebutkan dalam pembahasan mengenai Bid`ah.

3. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim di dalam kitab Shahih mereka. Diriwayatkan bahawa ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram). Rasulullah bertanya kepada mereka: “Untuk apa mereka berpuasa?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari ditenggelamkan Fir’aun dan diselamatkan Nabi Musa, dan kami berpuasa di hari ini adalah karena bersyukur kepada Allah”. Kemudian Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam bersabda:

“أَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ”.

Ertinya:

“Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (orang-orang Yahudi)”.

Lalu Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat baginda untuk berpuasa.

Faedah daripada Hadith tersebut:

Pengajaran penting yang dapat diambil daripada hadith ini ialah bahawa sangat dianjurkan untuk melakukan perbuatan bersyukur kepada Allah pada hari-hari tertentu atas nikmat yang Allah berikan pada hari-hari tersebut. Sama ada melakukan perbuatan bersyukur kerana memperoleh nikmat atau kerana diselamatkan dari bahaya. Kemudian perbuatan syukur tersebut diulang pada hari yang sama di setiap tahunnya. Bersyukur kepada Allah dapat dilakukan dengan melaksanakan berbagai bentuk ibadah, seperti sujud syukur, berpuasa, sedekah, membaca al-Qur’an dan sebagainya. Bukankah kelahiran Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam adalah nikmat yang paling besar bagi umat ini?!

Adakah nikmat yang lebih agung daripada dilahirkannya Rasulullah pada bulan Rabi’ul Awwal ini?! Adakah nikmat dan kurniaan yang lebih agung daripada pada kelahiran Rasulullah yang menyelamatkan kita dari jalan kesesatan?! Demikian inilah yang telah dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani.

4. Hadits riwayat al-Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya. Bahawa Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam ketika ditanya mengapa beliau puasa pada hari Isnin, beliau menjawab:

“ذلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ”.

Ertinya:

“Hari itu adalah hari dimana aku dilahirkan”.

(Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim)

Faedah daripada Hadith tersebut:

Hadith ini menunjukkan bahawa Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam melakukan puasa pada hari Isnin kerana bersyukur kepada Allah, bahawa pada hari itu baginda dilahirkan. Ini adalah isyarat daripada Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam, ertinya jika baginda berpuasa pada hari isnin kerana bersyukur kepada Allah atas kelahiran baginda sendiri pada hari itu, maka demikian pula bagi kita sudah selayaknya pada tanggal kelahiran Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam tersebut untuk kita melakukan perbuatan syukur, misalkan dengan membaca al-Qur’an, membaca kisah kelahiran baginda, bersedekah, atau melakukan perbuatan baik dan lainnya. Kemudian, oleh kerana puasa pada hari isnin diulangi setiap minggunya, maka bererti peringatan maulid juga diulangi setiap tahunnya. Dan kerana hari kelahiran Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam masih diperselisihkan oleh para ulama’ mengenai tanggalnya, -bukan pada harinya-, maka boleh sahaja jika dilakukan pada tanggal 12, 2, 8, atau 10 Rabi’ul Awwal atau pada tanggal lainnya. Bahkan tidak menjadi masalah bila perayaan ini dilaksanakan dalam sebulan penuh sekalipun, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh al-Hafizh al-Sakhawi seperti yang akan dinyatakan di bawah ini.

Fatwa Beberapa Ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah:

1. Fatwa al-Syaikh al-Islam Khatimah al-Huffazh Amir al-Mu’minin Fi al-Hadith al-Imam Ahmad Ibn Hajar al-`Asqalani. Beliau menyatakan seperti berikut:

“أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ، وَلكِنَّهَا مَعَ ذلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا، فَمَنْ تَحَرَّى فِيْ عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَتْ بِدْعَةً حَسَنَةً”. وَقَالَ: “وَقَدْ ظَهَرَ لِيْ تَخْرِيْجُهَا عَلَى أَصْلٍ ثَابِتٍ”.

Ertinya:

“Asal peringatan maulid adalah bid`ah yang belum pernah dinukikanl daripada (ulama’) al-Salaf al-Saleh yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi demikian peringatan maulid mengandungi kebaikan dan lawannya (keburukan), jadi barangsiapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik sahaja dan menjauhi lawannya (hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid`ah hasanah”. Al-Hafizh Ibn Hajar juga mengatakan: “Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang thabit (Sahih)”.

2. Fatwa al-Imam al-Hafizh al-Suyuthi. Beliau mengatakan di dalam risalahnya “Husn al-Maqshid Fi ‘Amal al-Maulid”. Beliau menyatakan seperti berikut:

“عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوِلِدِ الَّذِيْ هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ القُرْءَانِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ وَمَا وَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الآيَاتِ، ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذلِكَ هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ. وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ ذلِكَ صَاحِبُ إِرْبِل الْمَلِكُ الْمُظَفَّرُ أَبُوْ سَعِيْدٍ كَوْكَبْرِيْ بْنُ زَيْنِ الدِّيْنِ ابْنِ بُكْتُكِيْن أَحَدُ الْمُلُوْكِ الأَمْجَادِ وَالْكُبَرَاءِ وَالأَجْوَادِ، وَكَانَ لَهُ آثاَرٌ حَسَنَةٌ وَهُوَ الَّذِيْ عَمَّرَ الْجَامِعَ الْمُظَفَّرِيَّ بِسَفْحِ قَاسِيُوْنَ”.

Ertinya:

“Menurutku: pada dasarnya peringatan maulid, merupakan kumpulan orang-orang beserta bacaan beberapa ayat al-Qur’an, meriwayatkan hadith-hadith tentang permulaan sejarah Rasulullah dan tanda-tanda yang mengiringi kelahirannya, kemudian disajikan hidangan lalu dimakan oleh orang-orang tersebut dan kemudian mereka bubar setelahnya tanpa ada tambahan-tambahan lain, adalah termasuk bid`ah hasanah (bid`ah yang baik) yang melakukannya akan memperolehi pahala. Kerana perkara seperti itu merupakan perbuatan mengagungkan tentang kedudukan Rasulullah dan merupakan penampakkan (menzahirkan) akan rasa gembira dan suka cita dengan kelahirannya (rasulullah) yang mulia. Orang yang pertama kali melakukan peringatan maulid ini adalah pemerintah Irbil, Sultan al-Muzhaffar Abu Sa`id Kaukabri Ibn Zainuddin Ibn Buktukin, salah seorang raja yang mulia, agung dan dermawan. Beliau memiliki peninggalan dan jasa-jasa yang baik, dan dialah yang membangun al-Jami` al-Muzhaffari di lereng gunung Qasiyun”.

3. Fatwa al-Imam al-Hafizh al-Sakhawi seperti disebutkan di dalam “al-Ajwibah al-Mardliyyah”, seperti berikut:

“لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِيْ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ الْفَاضِلَةِ، وَإِنَّمَا حَدَثَ “بَعْدُ، ثُمَّ مَا زَالَ أَهْـلُ الإِسْلاَمِ فِيْ سَائِرِ الأَقْطَارِ وَالْمُـدُنِ الْعِظَامِ يَحْتَفِلُوْنَ فِيْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ- يَعْمَلُوْنَ الْوَلاَئِمَ الْبَدِيْعَةَ الْمُشْتَمِلَةَ عَلَى الأُمُوْرِ البَهِجَةِ الرَّفِيْعَةِ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ فِيْ لَيَالِيْهِ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ، وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ، وَيَزِيْدُوْنَ فِيْ الْمَبَرَّاتِ، بَلْ يَعْتَنُوْنَ بِقِرَاءَةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيْمِ، وَتَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُلُّ فَضْلٍ عَمِيْمٍ بِحَيْثُ كَانَ مِمَّا جُرِّبَ”. ثُمَّ قَالَ: “قُلْتُ: كَانَ مَوْلِدُهُ الشَّرِيْفُ عَلَى الأَصَحِّ لَيْلَةَ الإِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْع الأَوَّلِ، وَقِيْلَ: لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْهُ، وَقِيْلَ: لِثَمَانٍ، وَقِيْلَ: لِعَشْرٍ وَقِيْلَ غَيْرُ ذَلِكَ، وَحِيْنَئِذٍ فَلاَ بَأْسَ بِفِعْلِ الْخَيْرِ فِيْ هذِهِ الأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ عَلَى حَسَبِ الاسْتِطَاعَةِ بَلْ يَحْسُنُ فِيْ أَيَّامِ الشَّهْرِ كُلِّهَا وَلَيَالِيْهِ”.

Ertinya:

“Peringatan Maulid Nabi belum pernah dilakukan oleh seorangpun daripada kaum al-Salaf al-Saleh yang hidup pada tiga abad pertama yang mulia, melainkan baru ada setelah itu di kemudian. Dan ummat Islam di semua daerah dan kota-kota besar sentiasa mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan kelahiran Rasulullah. Mereka mengadakan jamuan-jamuan makan yang luar biasa dan diisi dengan hal-hal yang menggembirakan dan baik. Pada malam harinya, mereka mengeluarkan berbagai-bagai sedekah, mereka menampakkan kegembiraan dan suka cita. Mereka melakukan kebaikan-kebaikan lebih daripada kebiasaannya. Bahkan mereka berkumpul dengan membaca buku-buku maulid. Dan nampaklah keberkahan Nabi dan Maulid secara menyeluruh. Dan ini semua telah teruji”. Kemudian al-Sakhawi berkata: “Aku Katakan: “Tanggal kelahiran Nabi menurut pendapat yang paling sahih adalah malam Isnin, tanggal 12 bulan Rabi’ul Awwal. Menurut pendapat lain malam tanggal 2, 8, 10 dan masih ada pendapat-pendapat lain. Oleh kerananya tidak mengapa melakukan kebaikan bila pun pada siang hari dan waktu malam ini sesuai dengan kesiapan yang ada, bahkan baik jika dilakukan pada siang hari dan waktu malam bulan Rabi’ul Awwal seluruhnya” .

Jika kita membaca fatwa-fatwa para ulama’ terkemuka ini dan merenungkannya dengan hati yang suci bersih, maka kita akan mengetahui bahawa sebenarnya sikap “BENCI” yang timbul daripada sebahagian golongan yang mengharamkan Maulid Nabi tidak lain hanya didasari kepada hawa nafsu semata-mata. Orang-orang seperti itu sama sekali tidak mempedulikan fatwa-fatwa para ulama’ yang saleh terdahulu. Di antara pernyataan mereka yang sangat menghinakan ialah bahawa mereka seringkali menyamakan peringatan maulid Nabi ini dengan perayaan hari Natal yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Bahkan salah seorang dari mereka, kerana sangat benci terhadap perayaan Maulid Nabi ini, dengan tanpa malu dan tanpa segan sama sekali berkata:

“إِنَّ الذَّبِيْحَةَ الَّتِيْ تُذْبَحُ لإِطْعَامِ النَّاسِ فِيْ الْمَوْلِدِ أَحْرَمُ مِنَ الْخِنْزِيْرِ”.

Ertinya:

“Sesungguhnya binatang sembelihan yang disembelih untuk menjamu orang dalam peringatan maulid lebih haram dari daging babi”.

Golongan yang anti maulid seperti WAHHABI menganggap bahawa perbuatan bid`ah seperti menyambut Maulid Nabi ini adalah perbuatan yang mendekati syirik (kekufuran). Dengan demikian, menurut mereka, lebih besar dosanya daripada memakan daging babi yang hanya haram sahaja dan tidak mengandungi unsur syirik (kekufuran).

Jawab:

Na`uzu Billah… Sesungguhnya sangat kotor dan jahat perkataan orang seperti ini. Bagaimana ia berani dan tidak mempunyai rasa malu sama sekali mengatakan peringatan Maulid Nabi, yang telah dipersetujui oleh para ulama’ dan orang-orang saleh dan telah dianggap sebagai perkara baik oleh para ulama’-ulama’ ahli hadith dan lainnya, dengan perkataan buruk seperti itu?!

Orang seperti ini benar-benar tidak mengetahui kejahilan dirinya sendiri. Apakah dia merasakan dia telah mencapai darjat seperti al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani, al-Hafizh al-Suyuthi atau al-Hafizh al-Sakhawi atau mereka merasa lebih `alim dari ulama’-ulama’ tersebut?! Bagaimana ia membandingkan makan daging babi yang telah nyata dan tegas hukumnya haram di dalam al-Qur’an, lalu ia samakan dengan peringatan Maulid Nabi yang sama sekali tidak ada unsur pengharamannya dari nas-nas syari’at agama?! Ini bererti, bahawa golongan seperti mereka yang mengharamkan maulid ini tidak mengetahui Maratib al-Ahkam (tingkatan-tingkatan hukum). Mereka tidak mengetahui mana yang haram dan mana yang mubah (harus), mana yang haram dengan nas (dalil al-Qur’an) dan mana yang haram dengan istinbath (mengeluarkan hukum). Tentunya orang-orang ”BODOH” seperti ini sama sekali tidak layak untuk diikuti dan dijadikan ikutan dalam mengamalkan agama ISLAM ini.

Pembacaan Kitab-kitab Maulid

Di antara rangkaian acara peringatan Maulid Nabi adalah membaca kisah-kisah tentang kelahiran Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam. Al-Hafizh al-Sakhawi menyatakan seperti berikut:

“وَأَمَّا قِرَاءَةُ الْمَوْلِدِ فَيَنْبَغِيْ أَنْ يُقْتَصَرَ مِنْهُ عَلَى مَا أَوْرَدَهُ أَئِمَّةُ الْحَدِيْثِ فِيْ تَصَانِيْفِهِمْ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ كَالْمَوْرِدِ الْهَنِيِّ لِلْعِرَاقِيِّ– وَقَدْ حَدَّثْتُ بِهِ فِيْ الْمَحَلِّ الْمُشَارِ إِلَيْهِ بِمَكَّةَ-، وَغَيْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ بَلْ ذُكِرَ ضِمْنًا كَدَلاَئِلِ النُّـبُوَّةِ لِلْبَيْهَقِيِّ، وَقَدْ خُتِمَ عَلَيَّ بِالرَّوْضَةِ النَّـبَوِيَّةِ، لأَنَّ أَكْثَرَ مَا بِأَيْدِيْ الْوُعَّاظِ مِنْهُ كَذِبٌ وَاخْتِلاَقٌ، بَلْ لَمْ يَزَالُوْا يُوَلِّدُوْنَ فِيْهِ مَا هُوَ أَقْبَحُ وَأَسْمَجُ مِمَّا لاَ تَحِلُّ رِوَايَتُهُ وَلاَ سَمَاعُهُ، بَلْ يَجِبُ عَلَى مَنْ عَلِمَ بُطْلاَنُهُ إِنْكَارُهُ، وَالأَمْرُ بِتَرْكِ قِرَائِتِهِ، عَلَى أَنَّهُ لاَ ضَرُوْرَةَ إِلَى سِيَاقِ ذِكْرِ الْمَوْلِدِ، بَلْ يُكْتَفَى بِالتِّلاَوَةِ وَالإِطْعَامِ وَالصَّدَقَةِ، وَإِنْشَادِ شَىْءٍ مِنَ الْمَدَائِحِ النَّـبَوِيَّةِ وَالزُّهْدِيَّةِ الْمُحَرِّكَةِ لِلْقُلُوْبِ إِلَى فِعْلِ الْخَيْرِ وَالْعَمَلِ لِلآخِرَةِ وَاللهُ يَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ”.

Ertinya:

“Adapun pembacaan kisah kelahiran Nabi maka sepatutnya yang dibaca itu hanya yang disebutkan oleh para ulama’ ahli hadith di dalam kitab-kitab mereka yang khusus menceritakan tentang kisah kelahiran Nabi, seperti al-Maurid al-Haniyy karangan al-‘Iraqi (Aku juga telah mengajarkan dan membacakannya di Makkah), atau tidak khusus -dengan karya-karya tentang maulid saja- tetapi juga dengan menyebutkan riwayat-riwayat yang mengandungi tentang kelahiran Nabi, seperti kitab Dala-il al-Nubuwwah karangan al-Baihaqi. Kitab ini juga telah dibacakan kepadaku hingga selesai di Raudhah Nabi. Kerana kebanyakan kisah maulid yang ada di tangan para penceramah adalah riwayat-riwayat bohong dan palsu, bahkan hingga kini mereka masih terus mengeluarkan riwayat-riwayat dan kisah-kisah yang lebih buruk dan tidak layak didengar, yang tidak boleh diriwayatkan dan didengarkan, justeru sebaliknya orang yang mengetahui kebatilannya wajib mengingkari dan melarangnya untuk dibaca. Padahal sebenarnya tidak boleh ada pembacaan kisah-kisah maulid dalam peringatan maulid Nabi, melainkan cukup membaca beberapa ayat al-Qur’an, memberi makan dan sedekah, didendangkan bait-bait Mada-ih Nabawiyyah (pujian-pujian terhadap Nabi) dan syair-syair yang mengajak kepada hidup zuhud (tidak loba kepada dunia), mendorong hati untuk berbuat baik dan beramal untuk akhirat. Dan Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki”.

Kesesatan fahaman WAHHABI yang Anti Maulid:

Golongan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi berkata:

“Peringatan Maulid Nabi tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya. Seandainya hal itu merupakan perkara baik nescaya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya”.

Jawab:

Baik, Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam tidak melakukannya, adakah baginda melarangnya? Perkara yang tidak dilakukan oleh Rasulullah tidak semestinya menjadi sesuatu yang haram. Tetapi sesuatu yang haram itu adalah sesuatu yang telah nyata dilarang dan diharamkan oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam. Disebabkan itu Allah ta`ala berfirman:

“وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا”. (الحشر: 7)

Ertinya:

“Apa yang diberikan oleh Rasulullah kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”.

(Surah al-Hasyr: 7)

Dalam firman Allah ta`ala di atas disebutkan “Apa yang dilarang ole Rasulullah atas kalian, maka tinggalkanlah”, tidak mengatakan “Apa yang ditinggalkan oleh Rasulullah maka tinggalkanlah”. Ini Berertinya bahawa perkara haram adalah sesuatu yang dilarang dan diharamkan oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam tetapi bukan sesuatu yang ditinggalkannya. Sesuatu perkara itu tidak haram hukumnya hanya dengan alasan tidak dilakukan oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam. Melainkan ia menjadi haram ketika ada dalil yang melarang dan mengharamkannya.

Lalu kita katakan kepada mereka:

“Apakah untuk mengetahui bahawa sesuatu itu boleh (harus) atau sunnah, harus ada nas daripada Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam secara langsung yang khusus menjelaskannya?”

Apakah untuk mengetahui boleh (harus) atau sunnahnya perkara maulid harus ada nas khusus daripada Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam yang menyatakan tentang maulid itu sendiri?! Bagaimana mungkin Rasulullah menyatakan atau melakukan segala sesuatu secara khusus dalam umurnya yang sangat singkat?! Bukankah jumlah nas-nas syari`at, baik ayat-ayat al-Qur’an mahupun hadith-hadith nabi, itu semua terbatas, ertinya tidak membicarakan setiap peristiwa, padahal peristiwa-peristiwa baru akan terus muncul dan selalu bertambah?! Jika setiap perkara harus dibicarakan oleh Rasulullah secara langsung, lalu dimanakah kedudukan ijtihad (hukum yang dikeluarkan oleh mujtahid berpandukan al-Quran dan al-Hadith) dan apakah fungsi ayat-ayat al-Quran atau hadith-hadith yang memberikan pemahaman umum?! Misalnya firman Allah ta`ala:

“وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ”. (الحج: 77)

Ertinya:

“Dan lakukan kebaikan oleh kalian supaya kalian beruntung”.

(Surah al-Hajj: 77)

Adakah setiap bentuk kebaikan harus dikerjakan terlebih dahulu oleh Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam supaya ia dihukumkan bahawa kebaikan tersebut boleh dilakukan?! Tentunya tidak sedemikian. Dalam masalah ini Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam hanya memberikan kaedah-kaedah atau garis panduan sahaja. Kerana itulah dalam setiap pernyataan Rasulullah terdapat apa yang disebutkan dengan Jawami` al-Kalim ertinya bahawa dalam setiap ungkapan Rasulullah terdapat kandungan makna yang sangat luas. Dalam sebuah hadith sahih, Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam bersabda:

“مَنْ سَنَّ فيِ اْلإِسْـلاَمِ سُنَّةً حَسَنـَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ”. (رواه الإمام مسلم في صحيحه)

Ertinya:

“Barangsiapa yang melakukan (merintis perkara baru) dalam Islam sesuatu perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatannya tersebut dan pahala dari orang-orang yang mengikutinya sesudah dia, tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun”.

(Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam Sahih-nya).

Dan di dalam hadith sahih yang lainnya, Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam bersabda:

“مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ”. (رواه مسلم)

Ertinya:

“Barang siapa merintis sesuatu yang baru dalam agama kita ini yang bukan berasal darinya maka ia tertolak”.

(Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim)

Dalam hadith ini Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam menegaskan bahawa sesuatu yang baru dan tertolak adalah sesuatu yang “bukan daripada sebahagian syari`atnya”. Ertinya, sesuatu yang baru yang tertolak adalah yang menyalahi syari`at Islam itu sendiri. Inilah yang dimaksudkan dengan sabda Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam di dalam hadith di atas: “Ma Laisa Minhu”. Kerana, seandainya semua perkara yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah atau oleh para sahabatnya, maka perkara tersebut pasti haram dan sesat dengan tanpa terkecuali, maka Rasulullah tidak akan mengatakan “Ma Laisa Minhu”, tapi mungkin akan berkata: “Man Ahdatsa Fi Amrina Hadza Syai`an Fa Huwa Mardud” (Siapapun yang merintis perkara baru dalam agama kita ini, maka ia pasti tertolak). Dan bila maknanya seperti ini maka bererti hal ini bertentangan dengan hadith yang driwayatkan oleh al-Imam Muslim di atas sebelumnya. Iaitu hadith: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan….”.

Padahal hadith yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim ini mengandungi isyarat anjuran bagi kita untuk membuat sesuatu perkara yang baru, yang baik, dan yang selari dengan syari`at Islam. Dengan demikian tidak semua perkara yang baru itu adalah sesat dan ia tertolak. Namun setiap perkara baru harus dicari hukumnya dengan melihat persesuaiannya dengan dalil-dalil dan kaedah-kaedah syara`. Bila sesuai maka boleh dilakukan, dan jika ia menyalahi, maka tentu ia tidak boleh dilakukan. Karena itulah al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menyatakan seperti berikut:

“وَالتَّحْقِيْقُ أَنَّهَا إِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَحْسَنٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ حَسَنَةٌ، وَإِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَقْبَحٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ مُسْتَقْبَحَةٌ”.

Ertinya:

“Cara mengetahui bid’ah yang hasanah dan sayyi-ah (yang dicela) menurut tahqiq (penelitian) para ulama’ adalah bahawa jika perkara baru tersebut masuk dan tergolong kepada hal yang baik dalam syara` bererti ia termasuk bid`ah hasanah, dan jika tergolong kepada hal yang buruk dalam syara` maka berarti termasuk bid’ah yang buruk (yang dicela)”.

Bolehkah dengan keagungan Islam dan kelonggaran kaedah-kaedahnya, jika dikatakan bahawa setiap perkara baharu itu adalah sesat?

2. Golongan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi biasanya berkata: “Peringatan maulid itu sering dimasuki oleh perkara-perkara haram dan maksiat”.

Jawab:

Apakah kerana alasan tersebut lantas peringatan maulid menjadi haram secara mutlak?! Pendekatannya, Apakah seseorang itu haram baginya untuk masuk ke pasar, dengan alasan di pasar banyak yang sering melakukan perbuatan haram, seperti membuka aurat, menggunjingkan orang, menipu dan lain sebagainya?! Tentu tidak demikian. Maka demikian pula dengan peringatan maulid, jika ada kesalahan-kesalahan atau perkara-perkara haram dalam pelaksanaannya, maka kesalahan-kesalahan itulah yang harus diperbaiki. Dan memperbaikinya tentu bukan dengan mengharamkan hukum maulid itu sendiri. Kerana itulah al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani telah menyatakan bahawa:

“أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ، وَلكِنَّهَا مَعَ ذلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا، فَمَنْ تَحَرَّى فِيْ عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَتْ بِدْعَةً حَسَنَةً”.

Ertinya:

“Asal peringatan maulid adalah bid`ah yang belum pernah dinukil dari kaum al-Salaf al-Saleh pada tiga abad pertama, tetapi meskipun demikian peringatan maulid mengandungi kebaikan dan lawannya. Barangsiapa dalam memperingati maulid serta berusaha melakukan hal-hal yang baik sahaja dan menjauhi lawannya (hal-hal buruk yang diharamkan), maka itu adalah bid`ah hasanah”.

Kalangan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi berkata:

“Peringatan Maulid itu seringkali menghabiskan dana yang sangat besar. Hal itu adalah perbuatan membazirkan. Mengapa tidak digunakan sahaja untuk keperluan ummat yang lebih penting?”.

Jawab:

Laa Hawla Walaa Quwwata Illa Billah… Perkara yang telah dianggap baik oleh para ulama’ disebutnya sebagai

membazir?! Orang yang berbuat baik, bersedekah, ia anggap telah melakukan perbuatan haram, yaitu perbuatan membazir?! Mengapa orang-orang seperti ini selalu saja berprasangka buruk (suuzhzhann) terhadap umat Islam?! Mengapa harus mencari-cari dalih untuk mengharamkan perkara yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya?! Mengapa mereka selalu sahaja beranggapan bahawa peringatan maulid tidak ada unsur kebaikannya sama sekali untuk ummat ini?! Bukankah peringatan Maulid Nabi mengingatkan kita kepada perjuangan Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam dalam berdakwah sehingga membangkitkan semangat kita untuk berdakwah seperti yang telah dicontohkan baginda?! Bukankah peringatan Maulid Nabi memupuk kecintaan kita kepada Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam dan menjadikan kita banyak berselawat kepada baginda?! Sesungguhnya maslahat-maslahat besar seperti ini bagi orang yang beriman tidak boleh diukur dengan harta.

4. Golongan yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi sering berkata:

“Peringatan Maulid itu pertama kali diadakan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Tujuan beliau saat itu adalah membangkitkan semangat ummat untuk berjihad. Bererti orang yang melakukan peringatan maulid bukan dengan tujuan itu, telah menyimpang dari tujuan awal maulid. Oleh kerananya peringatan maulid tidak perlu”.

Jawab:

Kenyataan seperti ini sangat pelik. Ahli sejarah mana yang mengatakan bahawa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah sultan Salahuddin al-Ayyubi. Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn al-Jauzi, Ibn Kathir, al-Hafizh al-Sakhawi, al-Hafizh al-Suyuthi dan lainnya telah bersepakat menyatakan bahawa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan al-Muzhaffar, bukan sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Orang yang mengatakan bahawa sultan Salahuddin al-Ayyubi yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi telah membuat “fitnah yang jahat” terhadap sejarah. Perkataan mereka bahawa sultan Salahuddin membuat maulid untuk tujuan membangkitkan semangat umat untuk berjihad dalam perang salib, maka jika diadakan bukan untuk tujuan seperti ini bererti telah menyimpang, adalah perkataan yang sesat lagi menyesatkan.

Tujuan mereka yang berkata demikian adalah hendak mengharamkan maulid, atau paling tidak hendak mengatakan tidak perlu menyambutnya. Kita katakan kepada mereka: Apakah jika orang yang hendak berjuang harus bergabung dengan bala tentara sultan Salahuddin? Apakah menurut mereka yang berjuang untuk Islam hanya bala tentara sultan Salahuddin sahaja? Dan apakah di dalam berjuang harus mengikuti cara dan strategi Sultan Salahuddin sahaja, dan jika tidak, ia bererti tidak dipanggil berjuang namanya?! Hal yang sangat menghairankan ialah kenapa bagi sebahagian mereka yang mengharamkan maulid ini, dalam keadaan tertentu, atau untuk kepentingan tertentu, kemudian mereka mengatakan maulid boleh, istighatsah (meminta pertolongan) boleh, bahkan ikut-ikutan tawassul (memohon doa agar didatangkan kebaikan), tetapi kemudiannya terhadap orang lain, mereka mengharamkannya?! Hasbunallah.

Para ahli sejarah yang telah kita sebutkan di atas, tidak ada seorangpun daripada mereka yang mengisyaratkan bahawa tujuan maulid adalah untuk membangkitkan semangat ummat untuk berjihad di dalam perang di jalan Allah. Lalu dari manakah muncul pemikiran seperti ini?!

Tidak lain dan tidak bukan, pemikiran tersebut hanya muncul daripada hawa nafsu semata-mata. Benar, mereka selalu mencari-cari kesalahan sekecil apapun untuk mengungkapkan “kebencian” dan “sinis” mereka terhadap peringatan Maulid Nabi ini. Apa dasar mereka mengatakan bahawa peringatan maulid baru boleh diadakan jika tujuannya membangkitkan semangat untuk berjihad?! Apa dasar perkataan seperti ini?! Sama sekali tidak ada. Al-Hafizh Ibn Hajar, al-Hafizh al-Suyuthi, al-Hafizh al-Sakhawi dan para ulama’ lainnya yang telah menjelaskan tentang kebolehan peringatan Maulid Nabi, sama sekali tidak mengaitkannya dengan tujuan membangkitkan semangat untuk berjihad. Kemudian dalil-dalil yang mereka kemukakan dalam masalah maulid tidak menyebut perihal jihad sama sekali, bahkan mengisyaratkan saja tidak. Dari sini kita tahu betapa rapuhnya dan tidak didasari perkataan mereka itu apabila berkaitan dengan hukum, istinbath dan istidhal. Semoga Allah merahmati para ulama’ kita. Sesungguhnya mereka adalah cahaya penerang bagi umat ini dan sebagai ikutan bagi kita semua menuju jalan yang diredhai Allah. Amin Ya Rabb.

15 PERKARA YANG MENGUNDANG BALA

15 PERKARA YANG DILAKUKAN BAKAL MENGUNDANG BALA

Daripada Ali bin Abi Thalib ra, Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila umatku telah membuat 15 perkara, maka BALA pasti akan turun kepada mereka, iaitu :

1. Apabila harta negara hanya beredar dikalangan orang tertentu sahaja

2. Apabila amanah dijadikan suatu sumber keuntungan

3. Zakat dijadikan hutang

Ulasan – nak dapat zakat susah. Penerima zakat tergolong daripada kroni atau orang tertentu.

4. Suami menurut kehendak isteri (dalam perkara bertentangan syariat)

5. Anak derhaka terhadap ibunya

6. Akan tetapi (anak tadi) sangat baik terhadap kawan-kawannya.

7. Ia (anak) suka menjauhkan diri daripada ayahnya

8. Suara sudah ditinggikan di dalam masjid.

Ulasan – masjid dijadikan medan/tempat berkelahi. Sumpah di masjid untuk kepentingan sendiri.

9. Yang menjadi ketua sesuatu kaum adalah orang yang paling hina di antara mereka.

Ulasan – Org yg paling hina- yg tiada ilmu agama dan tiada akhlak.

10. Seseorang dimuliakan kerana ditakuti kejahatannya.

Ulasan – Contohnya, takut kepada polis kerana dibimbangi ia berlaku zalim terhadap diri kita.

11. Arak sudah diminum secara berleluasa.

12. Kain sutera banyak dipakai (oleh kaum lelaki)

13. Para artis-artis disanjung-sanjung.

Ulasan- penyanyi perempuan dimuliakan.

14. Muzik banyak dimainkan/didendangkan.

15. Generasi akhir umat ini akan melaknat generasi pertama (para sahabat terdahulu).

Ulasan – mempersenda sahabat-sahabat Rasulullah.

Maka pada ketika itu hendaklah mereka menanti angin merah atau GEMPA BUMI ataupun mereka akan dirubah menjadi makhluk lain”
(Hadis Riwayat At-Tirmidzi).

Friday, 2 January 2015

ISLAM DAN TELORANSI ANTARA UGAMA LAIN.

Agama Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi prinsip keadilan. Keadilan bagi sesiapa sahaja, iaitu menempatkan sesuatu sesuai tempatnya dan memberikan hak sesuai dengan haknya. Begitu juga dengan toleransi dalam beragama. Islam melarang keras umatnya berbuat zalim dengan penganut agama lain dengan merampas hak-hak mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu kerana agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (Al-Mumtahah: 8)

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menafsirkan, “Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung silaturrahim, membalas kebaikan , berbuat adil kepada orang-orang musyrik, baik dari keluarga kalian dan orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian kerana agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka kerana menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerosakan.” [1]

Akan tetapi toleransi ada batasnya dan tidak boleh keterlaluan. Misal mengucapkan “selamat krismas” dan menghadiri acara ibadah atau ritual kesyirikan agama lainnya. Kerana jika ianya sudah termasuk dalam urusan agama, tidak ada toleransi bagi perbuatan tersebut.

Berikut beberapa bukti bahwa Islam adalah agama yang menjunjung toleransi terhadap agama lain dan tentunya bukan toleransi yang keterlaluan, diantaranya:

1. Perintah berbuat baik terhadap tetangga meskipun bukan muslim

Berikut merupakan teladan dari salafus soleh dalam berbuat baik terhadap jiran tetangganya yang seorang Yahudi. Seorang tabi’in dan beliau adalah ahli tafsir, imam Mujahid, dia berkata, “Saya pernah berada di sisi Abdullah bin ‘Amru sedangkan pembantunya sedang memotong kambing. Dia lalu berkata,


ياَ غُلاَمُ! إِذَا فَرَغْتَ فَابْدَأْ بِجَارِنَا الْيَهُوْدِي

”Wahai pembantu! Jika anda telah selesai (menyembelihnya), maka bagilah dengan memulai dari tetangga Yahudi kita terlebih dahulu”.

Lalu ada salah seorang yang berkata,


آليَهُوْدِي أَصْلَحَكَ اللهُ؟!

“(kenapa engkau memberikannya) kepada Yahudi? Semoga Allah memperbaiki keadaanmu”.

‘Abdullah bin ’Amru lalu berkata,


إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوْصِي بِالْجَارِ، حَتَّى خَشَيْنَا أَوْ رُؤِيْنَا أَنَّهُ سَيُوّرِّثُهُ

‘Saya mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat terhadap jiran tetangga sampai kami khuatir kalau baginda akan menetapkan hak waris kepadanya.” [2]

2. Bermuamalah yang baik dan tidak boleh zalim terhadap keluarga dan kerabat meskipun bukan muslim

Misalnya pada ayat yang menjelaskan ketika orang tua kita bukan Islam, maka kita tetap harus berbuat baik dan berbakti kepada mereka dalam hal muamalah. Allah Ta’ala berfirman,


وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan jika mereka berdua mendesakmu supaya engkau mempersekutukan denganKu sesuatu yang engkau - dengan fikiran sihatmu - tidak mengetahui sungguh adanya maka janganlah engkau taat kepada mereka; dan bergaulah dengan mereka di dunia dengan cara yang baik.” (Luqman : 15)

3. Islam melarang keras membunuh orang kafir kecuali jika mereka memerangi kaum muslimin.

Dalam agama Islam, orang kafir yang boleh dibunuh adalah orang kafir harbi iaitu kafir yang memerangi kaum muslimin. Selain dari itu, orang kafir yang mendapat suaka atau ada perjanjian dengan kaum muslimin seperti kafir zimmi, kafir musta’man dan kafir mu’ahad, maka dilarang keras untuk dibunuh. Jika melanggar perintah ini, maka ancamannya sangat keras.


مَنْ قَتَلَ قَتِيلًا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Barangsiapa membunuh seorang kafir zimmi, maka dia tidak akan mencium bau syurga. Padahal sesungguhnya bau surga itu dapat dicium dari perjalanan empat puluh tahun. ”[3]

4. Adil dalam hukum dan pengadilan terhadap bukan Islam

Contohnya ketika Umar bin Khattab radiallahu’anhu membebaskan Baitulmuqaddis (Jerusalem) Palestin. Khalifah Umar memberi jaminan kepada warga kota berkenaan bahawa mereka tetap bebas memeluk agama dan membawa salib mereka. Umar tidak memaksa mereka memeluk Islam atau menghalangi mereka untuk beribadah, asalkan mereka tetap membayar 'wang perlindungan' kepada pemerintah Muslim. Berbeza ketika bangsa dan agama lain mengusai, maka mereka melakukan pembunuhan beramai-ramai.

Umar al Khattab juga memberikan kebebasan dan memberikan hak-hak hukum dan perlindungan kepada penduduk Jurusalem walaupun mereka bukan muslim.

Toleransi Membabi Buta

Toleransi berlebihan ini, ternyata sudah wujud sejak Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam memperjuangkan agama Islam.

Suatu ketika, beberapa orang kafir Quraisy iaitu Al Walid bin Mughirah, Al ‘Ash bin Wail, Al Aswad Ibnul Muthallib, dan Umayyah bin Khalaf menemui Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menawarkan toleransi berlebih-lebihan kepada baginda, mereka berkata:


يا محمد ، هلم فلنعبد ما تعبد ، وتعبد ما نعبد ، ونشترك نحن وأنت في أمرنا كله ، فإن كان الذي جئت به خيرا مما بأيدينا ، كنا قد شاركناك فيه ، وأخذنا بحظنا منه . وإن كان الذي بأيدينا خيرا مما بيدك ، كنت قد شركتنا في أمرنا ، وأخذت بحظك منه

“Wahai Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebahagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.”[4]

Kemudian turunlah ayat berikut yang menolak keras toleransi keterlaluan seperti ini,


قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ. لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

"Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak mahu menyembah (Allah) yang aku sembah. Dan aku tidak akan beribadat secara kamu beribadat. Dan kamu pula tidak mahu beribadat secara aku beribadat. Bagi kamu agama kamu, dan bagiku agamaku". (Al-Kafirun : 1-6).

Semoga bermanfaat.


Baca selanjutnya: http://www.penaminang.com/2015/01/toleransi-islam-dengan-agama-lain.html#ixzz3Njh2MSin
Follow us: @penaminang on Twitter | penaminangfanpage on Facebook

kakaktua800.blogspot.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...